,

Kolom Nilmaizar

oleh -996 views

Awalnya saya termasuk salah seorang yang cukup yakin, Argentina akan berjaya terbang tinggi di Piala  Dunia 2018. Setidaknya mereka punya tampang untuk mengulang hasil empat tahun lalu di Brasil 2014, masuk ke final.

Malah ada sedikit keinginan untuk melihat mereka juara. Rasanya sudah cukup layak, karena negara yang  tak pernah berhenti menelorkan pemain-pemain kelas dunia ini sudah cukup lama menunggu untuk  menjadi juara dunia lagi. 32 tahun, mereka tak merasakan lagi memegang trophy juara dunia, sejak Diego  Maradona melakukannya tahun 1986 silam.

Ternyata di Rusia 2018, Argentina tidak seindah yang saya bayangkan. Materi pemain kurang apa lagi?  Mulai dari Lionel Messi, Sergio Aguero, Angel di Maria, Gonzalo Higuain, Pablo Dybala dan lain-lainnya  ada disana. Pelatih, apa kurangnya sosok Jorge Sampaoli, yang membawa Timnas Chile dua kali juara  Copa America terakhir secara beruntun.

Tapi dengan personal-personal sekelas itu, Argentina seperti tak ada apa-apanya di Bumi Kremlin itu.  Imbang 1-1 dengan debutan Piala Dunia Islandia, dan hancur dengan skor telak 0-3 oleh Kroasia yang  sebelumnya selalu gampang dikalahkan Argentina, menunjukkan Argentina memang dibalut persoalan  besar menjelang berangkat  Rusia.

Untuk turun di sebuah iven, apalagi sebesar Piala Dunia, sejatinya sebuah tim memang sudah siap dan  detail 100 persen, baik teknis, fisik, mental, juga suasana internal tim. Tapi Argentina sepertinya terlalu  sombong  dan yakin, dengan materi pemain gemerlap mereka yakin semuanya  akan mudah di Rusia. Faktanya tak cukup mengharungi Piala Dunia dengan itu.

Menyedihkan melihat tim dengan reputasi seperti Argentina seperti tim medioker di ajang level Piala  Dunia. Sama sedihnya melihat seorang legenda seperti Diego Maradona  yang menangis di tribun melihat  timnas negaranya tak berdaya.  Argentina tak tampil layaknya juara dunia dua kali (1978, 1986), bahkan  jauh dari level permainan mereka yang sanggup maju ke final empat tahun silam.

Lagu legendaris “Don’t Cry For Me Argentina”  terdengar lirih di  Nizhny Novgorod Stadium seiring wasit  asal Uzbekistan, Ravshan Irmatov meniupkan peluit panjang. Lagu yang dipopulerkan Madonna untuk  mengenang kehidupan istri mantan Presiden Argentina Juan Peron, Evita Peron, mengiringi wajah sedih  pemain ke ruang ganti.

Don’t cry for me Argentina. The truth is I never left you. All through my wild days, my mad existence. I kept  my promise, don’t keep your distance. (Jangan menangis untukku Argentina. Sebetulnya aku tak pernah  meninggalkanmu. Sepanjang kehidupanku yang liar dan kegilaanku. Aku menepati janjiku, jangan  menjauhkan diri).

 

Tapi apa hendak dikata, semuanya memang diluar dugaan. Kekalahan telak dari Kroasia yang membuat  posisi Argentina sangat kritis. Bayang-bayang gagal lolos ke babak 16 besar semakin nampak nyata di  depan mata. Kemenangan atas Nigeria di laga terakhir Grup C, belum ada jaminan lolos, karena nasib  Argentina juga harus bergantung hasil pertandingan lain di Grup ini.

Melihat mereka bermain melawan Kroasia, saya melihat fighting spirit pemain tidak tereksplorasi  seutuhnya, Bahkan seperti tak niat tampil habis-habisan, sehingga semakin menyiratkan suasana internal  tim ini memang berada di titik nadir.

Kunci masalahnya mungkin seperti yang sudah menjadi isu umum tim Argentina, bahwa kedudukan Lionel  Messi yang terlalu besar dalam tim jadi penyebabnya. Sosok nomor 10 ini memang terlalu dominan,  bahkan konon pelatih pun tak berdaya di hadapan sang bintang. Tim seperti diarahkan bekerja untuk  Messi, bukan untuk Argentina.  Tapi sekali lagi, Messi bukanlah Maradona yang dengan kharisma dan kebesarannya mampu membawa

Argentina juara dunia “seorang diri” tahun 1986. Hal ini menunjukan, kelasnya Messi masih jauh dibawah sang legenda hidup Argentina itu. Untuk kegagalan di Rusia ini, saya menyebutnya Messi bukanlah Maradona, dan Argentina bukanlah Messi.

Imbas internal tim itu, nampak nyata di lapangan. Semua lini Argentina tak bekerja sesuai harapan. Lini  pertahanan tidak kompak, tidak ada koordinasi di lini tengah, dan lini depan yang tak bisa berbuat apa- apa. Hal ini diperparah oleh kiper yang buruk dengan blunder-blunder konyolnya. Saya masih heran,  melihat kiper yang seperti ketakutan ditekan lawan, bisa menjadi nomor satu di Timnas untuk Piala Dunia.

Tapi bisa dimengerti, dalam sejarahnya Argentina memang tak pernah melahirkan kiper-kiper kelas dunia.  Semuanya, pemain-pemain muda Argentina berebut menjadi pemain depan seperti Gabriel Batistuta, atau   gelandang seperti Maradona, dan pemain belakang layaknya Daniel Passarella.

Jadi, memang betul kata Maradona, pelatih Jorge Sampaoli harus bertanggungjawab, karena dia memang  tak bisa mempersiapakan timnya dengan detail. Dia juga terlalu berani berjudi dan mengambil risiko besar  dengan bereksperimen strategi dan komposisi 11 pemain utama, seperti yang dilalukannya melawan  Kroasia.

Sayang memang, jika Argentina harus segera mengepak koper pulang dari Rusia. Berharap Argentina  bisa lolos dari lubang jarum, sepertinya harapannya 1 persen berbanding 99 persen. Bisa jadi, sesudah  lawan Nigeria di laga terakhir Grup nanti, lantunan lagu Don’t Cry for Argentina akan makin bersahut-sahutan di seantero Argentina.(*)

*)Penulis, Mantan Pelatih Timnas Indonesia, Semen Padang FC, dan pemegang Lisensi A AFC