Kopi Salah Satu Hasil Utama Nagari Garabak Data

oleh -89 views

SOLOK,  dekadepos.com-

Mendengar nama Garabak Data, ingatan kita pasti akan langsung kesuatu daerah tertinggal di Kabupaten Solok.

Nagari Garabak Data memang berada paling ujung Tenggara dan tertinggal di Kabupaten Solok. Garabak Data,  terletak di Kecamatan Tigo Lurah,  Kabupaten Solok,  berbatas langsung dengan Kabupaten Dhamasraya dan Solok Selatan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, nageri ini terus meronta meminta keadilan pembangunan ke pemerintah daerah, baik Solok ataupun Pemda Sumbar.

“Saya sebagai Walinagari Garabak Data,  bingung mau menjawab apa,  kalau masyarakat bertanya,  kapan nagari kita maju atau bisa setara dengan Nagari lain, ” ujar Walinagari Garabak Data, Pardinal, Kamis (19/3).

Meski nagari yang dipimpinnya penuh dengan suasana tentram dan damai, masyarakat yang lebih dari 2600 jiwa hidup dalam suasana kegotong royongan, namun hingga saat ini,  kondisi jalan menuju nagari Garabak Data bila musim hujan tiba, benar-benar memprihatikan.

Bahkan sejak Indonesia merdeka, kondisi  jalan menuju nagari di Tenggara Kabupaten Bumi penghasil bareh tanamo ini belum pernah disentuh aspal apalagi hotmix.

Garabak Data masuk wilayah Kecamatan Tigo Lurah yang merupakan sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Payung Sekaki. Diantara lima nagari yang ada di Kecamatan Tigo Lurah, mungkin kondisi jalan menuju nagari Garabak Data lah yang paling parah.

“Bila hujan tiba, kita terpaksa berjalan kaki puluhan kilo meter, karena motor tidak bisa masuk karena kondisi jalan yang licin dan sangat becek,” tambah Walinagari Garabak Data, Pardinal.

Nagari dengan jumlah pendududk lebih dari 2600 jiwa ini, mayoritas mata pencaharian warganya adalah sebagai pertani dan warganya jarang yang meninggalkan kampung halaman untuk bepergian ke luar karena kondisi perhubungan yang sulit.

“Saat ini masyarakat hanya meminta pemerintah baik Kabupaten mapun Provinsi benar-benar serius memperhatikan nasib nagari kami, terutama untuk membangun infrastruktur jalan menuju Garabak Data dan dalam nagari Garabak Data sendiri, ” tambah Pardinal.

Menurut tokoh masyarakat Garabak Data, Jon Garda,  di Nagari Garabak Data ada Tiga Jorong,  yakni Jorong Garabak,  Jorong Data dan Lubuak Tareh. Penghasilan utama nagari ini adalah bertani kopi, karet, manggis, padi dan juga coklat.

“Rata-rata warga disini memiliki tanaman kopi dan rasanya sangat enak. Sayangnya hanya satu, akses jalan kesini yang belum bagus,” sebut Jon Garda.

Penduduk Garabak ada sekitar 1000 jiwa,  Data 1000 jiwa dan Lubuak Tareh 600 jiwa.  Yang uniknya lagi, penduduk Garabak Data jarang yang berpergian keluar dari nagari mereka.

Alasan utama pendududk malas pergi bepergian adalah karena harus berjalan kaki puluhan jam, bahkan untuk mencapai jarak jorong Garabak menuju jorong Data saja, bisa ditempuh seharian dengan berjalan kaki. Alat transfortasi satu-satunya untuk menghubungakan kedua jorong ini adalah kuda beban.

“Jadi kalau ada berita baik atau buruk dari sanak saudara yang tinggal di jorong tetangga atau di luar nagari Garabak Data, kami terpaksa harus berjalan kaki menuju Batu Bajanjang agar bisa berkomunikasi dengan HP  seperti untuk menghubungi sanak saudara yang ada di rantau,” jelas Candra (35), warga jorong Data.

Pertanyaannya, sampai kapan nagari dan masyarakat Garabak Data akan tinggal dalam keterisolasian dan tidak bisa menikamti kemerdekaan seperti saudara mereka di nagari tetangga?

Jon Garda juga menjelaskan,  walau tahun 2019 ini kabarnya ada anggaran sekutar Milyaran Rupiah untuk Tigo Lurah dari Pemkab Solok, namun apakah hal itu akan turun atau tidak, pihaknya juga tidak tahu.

” Masyarakat yang belum pasti itu tidak terlalu optimis. Selain itu dia juga tidak tau apakah anggaran sebanyak itu juga sampai ke Garabak Data atau tidak, ” sebut Jon Garda, (wandy)