Mahasiswa UNRI Berpartisipasi Dalam Pembuatan Pupuk Kompos di Payakumbuh

oleh -127 views

(Tulisan Ini Ditulis Fadly Wandra, Mahasiswa Universitas Riau)

Berhubung beberapa bulan ini Indonesia tengah disibukkan oleh virus Covid-19, maka beberapa system pendidikan menjadi terganggu, baik itu dari model pembelajaran maupun system pembelajaran.

Metode perkuliahan pun ikut terkena imbasnya sehingga mahasiswa harus melakukan proses perkuliahan secara online. Begitu juga dengan mahasiswa tingkat akhir yang sudah waktunya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Mahasiswa ini diberi peluang oleh kampus untuk bisa mengikuti KKN di daerah tempat tinggal masing-masing, KKN ini dinamakan Kukerta Relawan Desa Lawan Covid-19 karena bersifat pengabdian untuk melawan Covid-19.

Kegiatan ini boleh diikuti ditingkat desa/kelurahan ataupun ditingkat kecamatan. Nah, salah satunya yang saat ini sudah melakukan pengabdian di salah satu kelurahan di Payakumbuh Utara yaitu Fadly Wandra, Isnaini Sucitra, Nabila Tania, Putry Andhyni dan Sisi Amelia yang merupakan Mahasiswa Universitas Riau (UNRI) yang tergabung dalam Tim Kukerta Relawan Kelurahan Kapalo Koto Dibalai.

Dalam rangka menunaikan kewajiban sebagai tim relawan, kelima mahasiswa ini ikut berpartisipasi dalam proses pembuatan pupuk kompos di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kelurahan Kapalo Koto Dibalai.
TPST ini disebut juga dengan Pasar Berkah oleh warga sekitar. Sesuai namanya TPST ini adalah tempat pengolahan sampah organic menjadi pupuk kompos.
Berdasarkan hasil wawancara bersama salah seorang pengurusnya yang biasa dipanggil Da Jun diketahui bahwa tempat ini sudah beroperasi selama kurang lebih 3 tahun. Tempat ini sengaja bangun oleh Pemerintah Daerah (Pemda) guna menggurangi volume sampah dikelurahan tersebut.

Selain itu, hasil penjualan pupuk kompos ini nanti akan disalurkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan di lingkungan Kelurahan Kapalo Koto Dibalai.

Oleh karena itu juga tempat ini dinamakan “Pasar Berkah” yaitu singkatan dari Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat.

Tim Kukerta relawan pun ikut berpartisipasi didalamnya, begitu juga dengan Bapak Lurah dari Kelurahan Kapalo Koto Dibalai yaitu Bapak Candra Januardi.

Kegiatan ini dimulai dari memilah jenis sampah yang dibawa Da Jun dari rumah-rumah warga di Kelurahan Kapalo Koto Dibalai. Sampah yang diolah adalah sampah yang tergolong organik, sampah dapur atau sampah rumah tangga. Setelah memilah sampah, langkah selanjutnya yaitu menyatukan semua sampah organik dan menambah beberapa campuran bahan kimia yang bisa membantu pembusukan sampah seperti larutan M7 yang merupakan mikroorganisme yang dapat membantu pembusukan sampah untuk menjadi pupuk nantinya.

Selain itu, sampah-sampah yang mengandung gula seperti kue-kue kering dan sirup-sirup yang sudah kadaluarsa bisa menjadi kandungan yang dibutuh kan untuk membuat pupuk kompos.

Larutan M7 dan makanan kadaluarsa yang mengandung unsure manis tadi dimasukkan kedalam air. Air yang digunakan Da Jun ialah air yang sudah ada ulat mogot didalamnya, yang mana ulat mogot timbul dari sampah yang sudah membusuk. Ulat mogot berguna untuk menghilangkan bau sampah yang menyengat.

Da Jun juga membudidayakan ulat mogot tersebut dan bisa dijual dengan harga Rp10.000/kg. Sampah yang sudah dipilah lalu dimasukkan kemesin pencacah dan disiram dengan air yang sudah dicampur dengan larutan M7 agar sampah mudah dicacah.

Setelah dimasukkan kedalam mesin penggilingan, sampah yang tadi masih bertekstur kasar sekarang sudah menjadi lebih halus. Setelah digiling maka pupuk kompos yang masih setengah jadi ini harus didiamkan sekitar 2-3 bulan di bak penampungan khusus.

Gunanya untuk memasakkan pupuk tersebut agar bisa diproses menjadi pupuk kompos yang siap dipakai. Setelah didiamkan, pupuk harus dijemur (tidak terkena cahaya matahari langsung), setidaknya 2 hari hingga teksturnya menjadi kering.

Apabila sudah halus, maka pupuk bisa langsung disaring di alat penyaringan. Untuk alat penyaringan sendiri masih tergolong manual karena Da Jun (pengolah sampah) sendiri masih harus menggerakkan alat penyaring dengan keduatangannya agar dapat memutar alat tersebut untuk menyaring pupuk.

Sedangkan sisa-sisa pupuk yang masih kasar dicacah ulang untuk disaring kembali. Berdasarkan hasil wawancara oleh Tim Relawan Mahasiswa Universitas Riau, Da Jun mengatakan bahwa di TPST ini sudah banyak yang memesan pupuk kompos siap pakai.

Bahkan kabarnya untuk bulan Juli saja ada 4 Ton pupuk kompos yang dipesan. Oleh sebab itu pengurus TPST ini pun harus bekerja lebih ulet untuk memenuhi pesanan tersebut.

Diketahui harga pupuk kompos ini yaitu Rp.1000/kg nya. Untuk pengurus TPST sendiri pun saat diwawancara tidak mengatakan apa sebenarnya motivasinya sehingga ingin menekuni pekerjaan ini.

Walaupun begitu pria paruh baya ini berharap bahwa pekerjaan ini bisa menjadi berkah untuknya dan orang lain.

“Walaupun jika dipikir-pikir pekerjaan ini rentan dengan penyakit namun jika niat kita baik pasti dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya.

Candra Januardi (LurahKapalo Koto Dibalai) setelah wawancara singkat mengatakan bahwa tujuan TPST ini untuk menjadikan “SAMPAH” yang selama ini dianggap negative menjadi hal positif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kedepannya TPST ini akan dikembangkan untuk mengolah sampah plastic menjadi paving block sehingga tak ada lagi sampah plastik yang terbuang dan mencemari lingkungan.

TPST ini sudah berjalan dan berfungsi dengan cukup baik namun harus ditingkatkan lagi seiring banyaknya pesanan pupuk kompos. Harapan Pak Lurah semoga rencana pengolahan sampah plastic dapat terwujud secepatnya dan kedepannya semua bentuk sampah dapat di daurulang.

Kegiatan ini pun diakhiri dengan foto bersama Bapak Lurah, Tim Relawan Mahasiswa Universitas Riau dan juga pengurus TPST. Dari kegiatan ini kita bisa mengambil hikmah bahwa semua pekerjaan itu baik asal dimulai dengan niat baik dan halal.

Tidak perlu jabatan yang mélangit tapi menjadi manusia berguna dan bermanfaat untuk sesama s ja itu sudah luar biasa untuk kita sebagai umat manusia di muka bumi ini.(*)