Main Tambang, Oknum Walijorong dan Penambang Liar Ditangkap Polres Payakumbuh

PAYAKUMBUH, dekadepos.com-

Jajaran Polres Payakumbuh dibawah pimpinan Kapolres AKBP Dony Setiawan benar-benar bertindak tegas terhadap pelaku perusak lingkungan. Tak peduli apakah oknum perusak lingkungan seperti penambangan liar itu oknum aparat Kepala Jorong dan pemain tambang lainnya, sepertinya tak pandang bulu pasti disikat dengan tegas oleh jajaran Polres Payakumbuh.

Buktinya, Rabu (11/3/2020)  sekira pukul 16.30 Wib, Polres Payakumbuh berhasil mengamankan 2 orang pelaku penambangan pasir ilegal di Sungai Batang Sinamar, Jorong Balai Gadang Bawah, Nagari Mungo, Kecamatan Luhak, Kabupaten 50 Kota.

Kapolres Payakumbuh melalui Kasat Reskrim Polres Payakumbuh AKP Ilham Indramawan kepada awak media mengungkapkan bahwa, pelaku penambangan pasir ilegal yang diamankan Tim Gabungan Polres Payakumbuh itu adalah oknum Wali Jorong Balai Gadang, berinitial DM (52 tahun) sebagai pemilik lahan dan pelaku penambangan N (59 tahun) warga Jorong Kayu Pajajar Padang Laweh, Kenagarian Mungo, Kecamanatan Luhak, Kabupaten 50 Kota sebagai pemilik alat mesin penyedot pasir.

Menurut Kasat Reskrim Polres Payakumbuh AKP Ilham Indramawan, kedua pelaku menambang pasir dan batu sungai dengan menggunakan mesin sedot modifikasi yang memanfaatkan mesin mobil Colt Diesel Merk Mistsubishi sejak Januari 2020.

“Saat dilakukan penangkapan, petugas mengamankan satu set alat mesin sedot modifikasi yang terdiri dari 1 unit mesin mobil Colt Diesel, 1 buah alat penyedot pasir berbentuk keong dan 4 buah selang spiral dengan panjang 10 meter,” beber kata Kasat Reskrim AKP Ilham.

Dijelaskan Kasat reskrim, berdasarkan pengakuan tersangka paling maksimal dalam 1 hari bisa menghasilkan 20 kubik pasir dan dijual seharga Rp70.000  per kubik.

“ Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kedua tersangka sudah diamankan di Polres untuk proses penyidikan lebih lanjut dengan sangkaan penambangan tanpa izin pasal 158 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara,” ujar kata Kasat Reskrim AKP Ilham.

Ditekankan Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan, jajarannya akan menindak tegas terhadap praktik penambangan pasir ilegal di wilayah hukumnya.

“Operasi penertiban penambangan pasir ilegal akan terus kami gencarkan. Jangan wariskan bencana untuk anak cucu kita. Mengelola sumber daya alam itu ada aturannya, harus berizin, ada kajiannya agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Jadi bagi yang belum punya izin silahkan urus, kalau belum tolong hentikantegas AKBP Dony Setiawan.

Dikatakan AKBP Dony Setiawan, dampak terjadinya aksi perngursakan lingkungan sungguh jelas dan nyata. Buktinya,sudah berapa kali kami harus masuk ke dalam sungai untuk membantu warga membersihkan pohon tumbang akibat longsornya dinding sungai.

“Penambangan pasir ilegal mengakibatkan penurunan dasar sungai secara drastis sehingga mengakibatkan laju air sungai semakin deras dan mengikis dinding sungai. Pohon beringin yang sudah tumbuh puluhan tahun di pinggir sungai aja bisa tumbang akibat penambangan pasir ini“, ujar AKBP Dony Setiawan

Kapolres juga menghimbau agar Pemerintah Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota lebih peduli dan mengambil langkah-langkah yang komprehensif untuk mengatasinya. “Jangan dibiarkan saja, jangan korbankan alam, jangan warisi bencana untuk anak cucu kita, pemerintah harus hadir mengatasi hal ini, terlebih di Payakumbuh dan 50 kota bencana longsor sudah sering terjadi“, kata AKBP Dony Setiawan.

Pemerintah wajib melakukan upaya mitigasi bencana, ya ini salah satunya harus fokus mengidentifikasi faktor penyebab bencana dan mengurangi resiko terjadinya bencana, khususnya bencana longsor di wilayah hukum Polres Payakumbuh.

Kepada masyarakat Kapolres berpesan kepada masyarakat yang sudah lama menjalani praktik tambang ilegal agar menghentikan aktifitasnya. “Silahkan urus izin terlebih dahulu bila ingin menambang pasir atau batu”. (edw)