MEMAKNAI LAILATUL QADAR

oleh -73 views

Oleh: Dr. Asep Ajidin, MH*

Sekilas tentang Lailatul Qadar

Lailatul Qadar artinya; malam yang agung. Konteks Lailatul Qadar ada 2; pertama Lailatul Qadar dengan pengertian; malam pertama turunnya al-Quran yang hanya terjadi satu kali dan tidak akan terjadi berulang kali pada setiap tahunnya. Kedua Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
Lailatul Qadar di bulan Ramadhan tidak ada ketentuan yang pasti dari Nabi SAW, kapan atau tanggal berapa terjadinya. Tetapi Nabi menganjurkan untuk mencarinya di sepuluh akhir Ramadhan. Hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar setiap muslim bersungguh-sungguh dalam beribadah pada setiap malam Ramadhan.

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar, bahkan jumlahnya sampai 40 pendapat. Hal ini menunjukkan tidak ada dalil yang qath’i (pasti) dari Nabi . Nabi sempat akan menjelaskan tentang Lailatul Qadar, namun tidak jadi karena ada dua orang sahabat di waktu itu yang sedang bertengkar.

Makna Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Surat Al-Qadar turun di Makkah sebelum ada syari’at puasa. Berarti yang dimaksud dengan Lailatul Qadar di sini bukan Lailatul Qadar yang ada di bulan Ramadhan.

Lailatul Qadar di sini adalah saat pertama turunnya al-Quran di malam hari, di mana malam tersebut dinilai lebih bermakna dari 1000 bulan di zaman jahiliyah yang hidup semrawut, tidak mengenal aturan, penuh dengan kegelapan dan kemusyrikan.

Dalam hal ini al-Qasimi dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut:
“Karena telah berlalu di kalangan mereka (zaman jahiliyah) ribuan bulan di mana mereka hidup dalam kegelapan juga penuh kesesatan, maka satu malam yang memancar padanya cahaya petunjuk dari al-Quran, tentu saja lebih baik dari pada ribuan bulan di zaman jahiliyah.” (Lihat al-Qasimi, 17: 6220).

Dari penjelasan tersebut, berarti maksud dari satu malam lebih baik daripada 1000 bulan itu bukan artinya lebih baik daripada ibadah 1000 bulan pada bulan Ramadhan.

Untuk perbandingan, sama halnya seperti ungkapan; “Detik-detik proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia itu lebih baik daripada 1000 tahun hidup di zaman penjajahan.”

Meskipun Lailatul Qadar itu malam diturunkannya al-Quran pada fase pertama, yakni dari Allah ke langit yang paling bawah, tetapi bukan berarti bahwa Lailatul Qadar itu sudah tidak berlaku lagi saat ini disebabkan proses turunnya al-Quran sudah selesai. Lailatul Qadar tetap ada sampai hari kiamat. Abu Dzar dalam hal ini pernah menanyakannya langsung kepada Nabi:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي رَمَضَانَ، قَالَ: قُلْتُ: تَكُوْنُ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ مَاكَانُوْا فَإِذَا قُبِضُوْا رُفِعَتْ أَمْ هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: بَلْ هِيِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku apakah Lailatul Qadar itu pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya? Beliau menjawab: “Ramadhan”. Aku bertanya juga: “Apakah adanya itu ketika para nabi ada, sehingga kalau mereka meninggal, Lailatul Qadar pun dicabut, ataukah berlaku sampai hari kiamat?” Beliau menjawab: “Sampai hari kiamat.” (Shahih Ibnu Khuzaimah kitab ash-shiyam bab dzikrid-dalil ‘ala anna lailatal-qadri hiya fi Ramadhan no. 2170)

Lailatul Qadar: Penetapan Semua Urusan
Lailatul Qadar itu adalah malam ditetapkannya semua urusan manusia dalam jangka waktu satu tahun. Para ulama sepakat untuk tidak membatasi urusan apa saja yang ditetapkan pada malam itu, sebab Allah pun menyebutnya: min kulli amrin; semua urusan. Ini berarti mencakup semua urusan kehidupan manusia mulai dari hidayah agama, rezeki, kesehatan, kecerdasan, urusan rumah tangga, keluarga besar, tetangga, urusan di kantor, pasar, masjid, organisasi, dan sejumlah urusan lainnya. Jika seseorang memohon agar semua urusannya tersebut dilancarkan pada Lailatul Qadar niscaya semua urusannya dilancarkan. Asalkan betul saja pada malam itu ia beribadah dan berdoa kepada Allah, menyambut para malaikat yang turun ke bumi untuk menetapkan semua urusannya.

Konteks Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan

Imam Al Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW, jika sudah memasuki sepuluh terakhir di bulan Ramadhan beliau mengen-cangkan ikat pinggangnya, maksudnya menjauhi istrinya dari bercumbu dan bercampur, menghidupkan malam dengan mem-perbanyak zikir, doa dan tilawah al-Quran, serta membangunkan keluarganya agar menyedikitkan tidur pada malam-malam tersebut.

Masih diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW menghabiskan malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan dengan beri’tikaf di Mesjid. Beliau mengulangi bacaan al-Quran bersama Malaikat Jibril disetiap Ramadhan, dan pada tahun terakhir dari hayatnya beliau beri’tikaf selama duapuluh hari untuk mengulang-ulang bacaan al-Quraan bersama Jibril.
Aisyah juga bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam qadar, apa yang harus aku ucapkan padanya?”. Beliau menjawab, ucapkanlah,

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِىّ.

“Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”. (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi no.3760, dan Ibnu Majah no.3850)

Demikian pula para sahabat, tabi’in, dan para ulama salafus shalih mereka semua sangat merindukan kedatangan malam qadar dan menanti-nantikannya dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan melalui peningkatan ibadah seperti beri’tikaf, mentadarus al-Quran, memperbanyak zikir dan istigfar kepada Allah SWT.

Diriwayatkan dari Sai’d bin Musayyib, seorang ulama besar pada generasi Tabi’in, bahwa siapa yang shalat maghrib berjamaah dan shalat isya berjamaah maka ia berpeluang memperoleh pahala beribadah pada malam qadar.

Do’a Lailatul Qadar

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِىّ –رواه الترمذي-
“Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf, mencintai pemaafan, maafkanlah aku”. (HR. Tirmidzi)

Do’a tersebut adalah do’a yang dianjurkan oleh Nabi kepada ‘Aisyah ketika ia bertanya kepada Nabi; Apa yang mesti saya baca andai saya mengetahui kapan terjadi lailatul qadar?

Do’a tersebut adalah do’a yang paling utama diucapkan, tapi bukan berarti tidak boleh berdo’a dengan do’a yang lain.

*Tenaga Ahli Bupati Solok