ODGJ, Bertahun-tahun Hidup Dalam ‘Kandang’ Pengasingan

oleh -1.889 views

LIMAPULUH KOTA, Dekadepos.com

Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, sudah lama dikenal sebagai daerah kaya. Itulah sebabnya, daerah yang berada paling ujung di bagian Timur Propinsi Sumatera Barat, berbatasan langsung dengan Propinsi Riau itu, dijuluki sebagai daerah ‘Petro Dollar, karena memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA), utamanya perkebunan komuditi ekspor yakni gambir dan karet serta sumber daya tambang seperti batubara dan tambang galian C yang sangat menjanjikan.

Namun siapa sangka, di daerah nan kaya dengan potensi SDA yang melimpah ini, ternyata ditemukan kasus kesenjangan sosial yang sangat memprihatinkan.

Setidaknya, hal itu disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, yang datang berkunjung ke Nagari Sialang bersama sejumlah awak media, merekam betapa menyedihkannya kasus kesenjangan sosial di daerah yang dijuluki negeri ‘petro dollar’ itu.

ODGJ, HIDUP DALAM ‘KANDANG’ PENGASINGAN

Kunjungan kerja Wakil Bupati Ferizal Ridwan ke Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Rabu (6/5/2020) sebenarnya adalah kunjungan biasa, sebagaimana seorang pemimpin ingin melihat dari dekat kondisi sosial rakyatnya, sekaligus bersilaturahmi dan menyerap aspirasi warga ditengah-tengah mewabahnya virus corona atau covid-19 yang makin menghantui masyarakat ini.

Membawa sedikit bantuan sosial berupa beras dan sembako, orang nomor dua di Kabupaten Limapuluh Kota yang akrap disapa Buya Feri itu, mengaku prihatian dan rasa jatuh ke dalam air matanya, tatkala menyaksikan betapa tingginya kasus kesenjangan sosial di daerah yang dijuluki ‘petro dollar’ itu.

Setidaknya, dalam kunjungan ke Sialang didampingi Walinagari Sialang, Zasmurdi Khatib dan Wali Jorong Ronah Bengkek, Rais dan Wali Jorong Sialang Ateh, Yurmilize, Wabup Ferizal Ridwan menemukan 3 Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) yang bertahun-tahun hidup dalam ‘kandang’ pengasingan, yang kondisinya gelap dan pengap berukuran tak lebih sekitar 2×2 meter itu.

Di jorong Sialang Ateh, misalnya, seorang pria bernama Muslim (50 tahun), menurut penuturan keluarganya, Dalismar, kepada Wabup Ferizal Ridwan, mengaku bahwa, Muslim sudah hampir 5,5 tahun di ‘kurung’ dalam ‘kandang’ pengasingannya karena sering melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan warga dan keluarganya.

“Kalau dia dilepas, sering membuat masalah dan bahkan tidak jarang mengancam warga dan keluarga dengan parang,” ungkap Dalismar.

Dulu, sebelum ODGJ, Muslim, hidup bahagia dengan istri dan 4 orang anaknya, meski pun sehari-hari kehidupannya hanya sebagai tukang kampo gambir.

“ Namun, karena sakit yang dideritanya bisa mengancam keselamatan jiwa warga dan keluarga, tak ada jalan lain, Muslim, terpaksa kami kurung tapi makan dan minumnya selalu diperhatikan keluarga,” ujar Dalismar kepada Wabup Ferizal Ridwan.

Kondisi yang sangat memprihatinkan juga ditemukan Wabup Ferizal Ridwan di Jorong Lubuak Koto, Nagari Sialang. Seorang pemuda bernama Yandra (29 tahun) juga harus diasingkan keluarganya dalam kerangkeng yang dibangun di sebuah bilik rumah.

“Yandra, sudah hampir 10 tahun menderita gangguan jiwa. Bahkan sudah berulang kali dibawa ke rumah sakit jiwa di Padang dan Rumah Sakit Jiwa Tampan, Kota Pekanbaru, Riau,” ungkap Reksi, adik perempuan Yandra yang kini mengurusnya.

Menurut Reksi, dulu Yandra pernah bekerja di Mall Pekanbaru. Namun, suatu ketika, dia akan dipindahkan ke Bengkulu dan pihak perusahaan meminta Yandra untuk menyerahkan Ijazah SMAnya. Ketika itulah Yandra terpaksa pulang kampung dan sejak kejadian itu jiwanya mulai terguncang.

“ Cita-cita Yandra tinggi, namun boro-boro punya ijazah SMA, SD saja dia tidak tamat. Sejak kejiwaannya terganggu itulah, dia sering melakukan perbuatan yang meresahan warga dan bahkan mengancam keselamatan keluarga. Dari pada mendatangkan masalah besar di lingkungan masyarakat, Yandra terpaksa dikurung. Sudah 8 tahun dia sakit dan kini mamsih dalam pengawasan Puskesmas Nagari Sialang,” ungkap Reksi.

Nasib yang sama juga dialami seorang pria lanjut usia bernama Bodong (72 tahun) warga Jorong Ranah Singkek. Pria yang tinggal sebatang kara yang juga masuk dalam daftar ODGJ ini, hidup menyedihkan dan terlunta-lunta dalam sebuah gubuk kayu berukuran 2x 2 meter.

Meski pria tua itu tidak dikerangkeng atau dikurung dalam rumah yang layak disebut kandang ini, namun dia masih bernasib mujur karena diurus oleh warga yang hiba melihat nasibnya.

“Kalau dia lapar, dia mengedor-gedor dinding rumahnya. Dia akan tenang jika sudah ada warga yang mengantarkan makanan untuknya,” ungkap Nilis yang sering memberikan makanan untuk Bodong.

Usai melihat sekaligus memberikan bantuan beras dan sembako untuk ke tiga warga ODGJ tersebut, kepada awak media Wabup Ferizal Ridwan mengaku prihatin melihat kondisi sosial yang dialaminya warganya itu.

“ Untuk mengatasi terjadinya kesenjangan sosial ini, Pemkab harus serius memprogramkan penanganan masalah sosial ini. Namun tak kalah pentingnya, masyarakat juga dituntut berperan serta memberikan dukungan untuk menangani masalah sosial kemasyarakat ini,” pungkas Ferizal Ridwan yang berjanji akan memberikan perhatian serius terhadap masalah sosial ini. (ds)