Pardinal: Saya Akan Terus Berteriak, Hingga Jeritan Warga Garabak Data Didengar Pemerintah

oleh -17 views

SOLOK, dekadepos.com-

Walinagari  Garabak Data,  Kecamatan Tigo Lurah,  Kabupaten Solok,  Pardinal, mengaku tidak akan pernah berhenti berjuang untuk kampung halamannya, Garabak Data. 

“Dari awal saya sudah bilang,  bahwa saya maju menjadi Walinagari hanya ingin membangun kampung halaman saya Garabak Data. Meski pada priode pertama saya menjabat Walinagari belum banyak yang bisa saya bangun,  namun saya sudah berusaha secara maksimal agar nagari saya bisa sejajar dengan nagari lain di Kabupaten Solok, ” ucap Pardinal,  salah satu walinagari yang daerahnya masih teridolir, saat berbincang dengan awak media ini,  Kamis (25/3).

Pada priode 6 tahun lalu,  Pardinal sudah gigih memperjuangkan daerahnya, mulai ke Dinas PUPR,  Barenlitbang,  Anggota Dewan,  Bupati Solok,  Gubernur Sumbar hingga ke Kementerian PU RI dan Kementerian Desa Tertinggal. 

Atas kegigihanya itu,  masyarakat Garabak Data kembali mempercayakan pilihan kepada Pardinal dan terpilih kembali menjadi walinagari untuk kedua kali. 

Alasan pemerintah waktu itu menurut Pardinal Garabak Sulit Dibangun jalan, karena Garabak Data masuk kawasan hutan lindung. Namun sekarang izin pinjam pakai tersebut sudah keluar dan Pardinal mengaku tidak akan lelah berjuang untuk 3000 jiwa penduduk Garabak Data. 

“Misi saya akan terus berteriak ke Pemerintah hingga jeritan warga kami di dengar. Terimakasih juga kepada sejumlah media  yang sudah gigih memberitakan kondisi kampung kami, ” sebut Pardinal. 

Disebutkan Pardinal,  mungkin warga Garabak Data, masih tetap belum menikmati apa itu arti ‘merdeka’.  Merdeka di sini jelas bukan masih terjajah oleh bangsa lain, namun masih belum bisa menikmati makna dari kemerdekaan sebagai warga sebuah negara yang sudah merdeka. Penduduk Garabak Data,  masih belum bisa menikmati listrik,  telepon selluler,  jalan beraspal, sarana dan tenaga kesehatan atau menikmati siaran televisi dan internet lainnya.

Bahkan satu-satunya alat transportasi yang masih bertahan semenjak nenek moyang  adalah dengan menggunakan kuda beban, yang tarifnya dibayar Rp4000 per kilo meter atau satu kilo barang dengan ongkos Rp1500 sampai Rp3000.

Penduduk nagari Garabak Data berjumlah 2.800 jiwa, dan mengaku masih belum menikmati apa itu kemerdekaan. 

Pardinal juga menyebutkan bahwa pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat tidak serius memperhatikan nagari Garabak Data.

“Kami benar-benar merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Lihat saja, zaman sekarang masih banyak warga kami yang tidak mengerti apa itu kendaraan, listrik atau televisi. Padahal negara ini sudah 74 tahun merdeka,” tutur Pardinal.

Ditambahkannya, warga Garabak Data benar-benar buta tentang kemajuan teknologi dan sampai sekarang warganya masih terisolasi dan miskin. Sehari-hari, menurut Pardinal, warganya hidup dari bertani coklat, kopi, manggis, pisang, padi, karet dan lain sebagainya. Namun hasil pertanian dijual sangat murah kepada tengkulak, karena mereka jauh dari pusat kota dan kecamatan.

“Bayangkan saja, untuk keluar dari Garabak Data saja mau menuju kantor kecamatan, setiap warga harus mengeluarkan ongkos ojek Rp 150 ribu untuk satu kali jalan. Bagaimana kalau mau sampai ke Arosuka ibukota Kabupaten Solok atau ke Padang, mungkin ongkosnya sampai 500 ribu, belum termasuk biaya lain-lain. Makanya masyarakat Garabak lebih memilih diam di kampung dan jarang berpergian ke luar,” jelas Pardinal.

Nada memilukan dan gambaran potret kemiskinan yang disampaikan walinagari Pardinal, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah.

Pardinal juga menjelaskan bahwa sampai saat ini semua sarana jalan ke Garabak Data masih jalan tanah dan seadanya, sehingga akses transportasi ke daerah penghasil pertanian ini masih menggunakan kuda beban.

Pardinal  juga akan mencalon menjadi Walinagari Garabak Data,  sangat menyayangkan janji Gubernur Sumbar dan Bupati pada April 2014 lalu, akan mencalon menjadi sampai sekarang belum terealisasi. Garabak Data adalah penghasil pertanian yang baik, karena masyarakatnya rajin bekerja dan sekolah setingkat SMA juga belum ada. Setiap petani di Garabak Data, minimal mempunyai 1500 batang kopi.

“Karena susahnya akses jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian, untuk mengangkut dan memasarkan hasil bumi, membuat masyarakat tidak bisa menjual hasil panen dengan harga tinggi,” tutur Pardinal.

Selain tidak adanya akses jalan, Pardinal juga merasa kecewa dengan rencana Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) TNI yang semula di rencanakan di Garabak Data, kali ini malah diarahkan ke nagari Batu Bajanjang. “Kita berharap bahwa program Tentara Manunggal Masyarakat Desa bisa membuka akses jalan menuju Nagari Garabak Data yang direncanakan pada Mei 2015 lalu. Namun TMMD dialihkan lagi ke Muaro Subiak Air, Nagari Batu Bajanjang.

Tokoh masyarakat Tigo Lurah, Dani mengatakan  pemerintah Kabupaten Solok lebih serius melakukan pembangunan di nagari ini dengan memprioritaskan mana yang paling penting, utamanya membuka akses jalan menuju Nagari Garabak Data. Ribuan penduduk Garabak Data juga sangat berharap kepada anggota DPRD Kabupaten Solok, kususnya yang berasal dari Dapil III yang  meliputi Kecamatan Tigo Lurah dan kecamatan lainya serius memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Kalau pemerintah Kabupaten Solok tidak pernah serius memperhatikan dan membangun Nagari Garabak Data sebagaimana yang diharapkan masyarakat, dapat dipastikan selamanya penduduk Nagari Garabak Data akan merasa tidak hidup di negerinya sendiri,” tambah Dani.

Ketua DPRD Kabupaten Solok, Jon Firman Pandu, berjanji akan ikut memperjuangkan nagari Garabak Data, salah satu nagari yang tertinggal tertinggal di kecamatan Tigo Lurah dan Kabupaten Solok. “Insyaallah apa yang bisa kita perjuangkan untuk nagari Garabak Data dan Tigo Lurah akan kita perjuangkan. Setidak-tidaknya mereka harus punya akses jalan untuk keluar dari keterisolasian,” tutur Jon Firman Pandu.

Hal yang sama disampaikan anggota DPRD kabupaten Solok asal Tigo Lurah,   Nelson  bahwa pihaknya akan berupaya memperjuangkan Garabak Data dan Tigo Lurah agar keluar dari keterbelakangan (jarbat)