Pendidikan yang Menyeimbangkan Dimensi Ilahiah dan Iradah Peserta Didik

oleh -99 views

Pendidikan yang Menyeimbangkan Dimensi Ilahiah dan Iradah Peserta Didik

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I, MH*  

DALAM sejarah kebudayaan Islam, akulturasi operasional pendidikan Islam yang berpedoman pada Alquran dan hadis secara serasi dan seimbang telah mampu memberikan motivasi dan inspirasi umat Islam pada masa klasik merumuskan berbagai persepsi manusia melalui pendidikan sebagai sarana yang mendasari lahirnya peradaban dunia.

Selanjutnya (Marshal Mc. Luhan, 1967: 11) menyatakan bahwa dialog antara intelektual manusia dengan kedua dasar di atas secara harmonis dan integral telah melahirkan peradaban Islam yang sangat berpengaruh pada abad ke-16 sehingga mampu menciptakan berbagai bentuk kebudayaan yang bernuansa ilahiah serta secara aktif mampu berfungsi sebagai “perpanjangan” tangan manusia menuju era mekanika yang mampu membantu “memperpanjang” dan memudahkan kerja dari sistem syaraf manusia tersebut.

Namun setting historis operasionalisasi pendidikan umat manusia, bila dilihat secara obyektif –dalam melaksanakan peranannya secara ideal– terlaksana secara maksimal. Hal ini dapat terlihat dari aspek tujuan yang belum mampu menyentuh totalitas aspek tersebut dan belum terlaksana secara maksimal.

Hal ini dapat terlihat dari aspek tujuan yang belum tercapai secara optimal, kurikulum yang terkesan bongkar pasang dan kurang mampu menjawab akselerasi zaman yang demikian dinamis dan kompleks, proses belajar mengajar yang teacher oriented belum mampu mengakumulasikannya dengan dimensi ilahiah dan iradah peserta didik, pelaksanaan evaluasi yang lebih dominan pada domain kognitif, sarana dan prasarana yang belum mendukung bagi terlaksananya proses edukasi, serta lingkungan –baik sosial maupun asosial– yang bergerak secara berseberangan dengan kebijakan institusi pendidikan. Dimensi ini kemudian telah ikut berperan — secara sadar maupun tidak– dalam menempatkan pendidikan di Indonesia pada atmosfir kebijakan dan operasional yang terkesan dikotomik-parsial. Kebijakan yang demikian akhirnya bermuara pada ketidakmampuan peserta didik mengekspresikan totalitas potensi yang dimilikinya, baik sebagai insan Tuhan maupun sebagai pengelola alam semesta, secara integral, harmonis dan optimal.

Akibat yang terlihat dari operasionalisasi kebijakan pendidikan yang demikian ini terkesan cenderung dikotomik dan parsial, dalam memberikan penekanan aspek pendidikan rohaniah dan jasmaniah, secara tak sadar atau tidak, telah menggiring peserta didik dengan “mesin-mesin” yang harus diawasi dan dimanipulir lewat kekuatan fisis-kimiawi dan alat-alat teknologi (Nurcholis Madjid,1992: 30).

Akibatnya, terpisah nilai-nilai kewahyuan dari pribadi peserta didik yang lebih mengandalkan kekuatan rasional semata. Keadaan ini menimbulkan kecenderungan pikiran yang tak memiliki dimensi Ilahiah yang menjiwai konsep pendidikan yang ditawarkan, sehingga mengakibatkan lahirnya berbagai bentuk tindakan amoral yang dilakukan oleh sebagian out put pendidikan (Kuntowijoyo,1991: 161). Kecenderungan ini akhirnya telah menggiring peserta didik senantiasa mengambil jalan pintas yang cenderung bersifat amoral.

Siklus ini akhirnya telah menyebabkan peserta didik tidak mampu menemukan kedalaman nilai-nilai spiritualnya yang hanif (Samsul Nizar, 2007: 2). Penekanan dalam memposisikan peserta didik yang demikian, telah ikut andil dalam melepaskan peserta didik dari nilai transenden ilahiah.

Fenomena ini secara nasional merupakan tantangan yang berat apalagi lembaga pendidikan di Indonesia sebagai lembaga yang dipercayakan membantu menciptakan peserta didik sebagai manusia Indonesia yang berkepribadian luhur (insan kamil) bagi kepentingan kehidupan manusia di muka bumi. Institusi ini lebih ditantang dengan semakin seringnya terjadi tindakan amoral dewasa ini.

Kondisi ini seharusnya tidak terjadi. Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia adalah bangsa relegius dan memiliki akar budaya yang luhur. Disisi lain pengalaman bangsa ini saat “dipaksa” penjajah untuk mengikuti pola pendidikan dualistik-parsial, dengan berbagai aksesnya, telah banyak merugikan eksistensi bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, langkah korektif-inovatif harus segera diambil guna mencari alternatif dalam menata sistem pendidikan yang lebih kondusif. Melihat fenomena yang demikian, tidaklah berlebihan kiranya (Meriel Downey A.V. Kelly, 1987: 176) mengatakan, bahwa sudah saatnya pendidikan moral ditinjau kembali dalam dunia pendidikan sebagai salah satu aspek yang penting, baik dari sistem, maupun dari proses pembelajaran.

Menanggapi hal ini, Noeng Muhadjir berpendapat, (Noeng Hadjir, 1987: 200) sudah saatnya program pendidikan saat ini ditinjau kembali, sehingga benar-benar mampu berfungsi untuk menumbuhkan daya kreativitas peserta pendidik yang menunjang kualitas pendidikan, sekaligus melestarikan nilai-nilai Ilahi dan insani, serta membekalinya dengan kemampuan yang produktif dan berkualitas.

Alternatif lain dikembangkan Higgins dan Roger –sebagaimana dikutip Hasan Langgulung– adalah dengan jalan menanamkan kembali pendidikan rohani (spiritual) dan keimanan (faith), serta menempatkan pendidikan al-insaniyah sebagai upaya mengangkat kembali nilai-nilai fitri peserta didik yang potensial pada posisinya yang ideal.

(* – Pengurus PGRI Propinsi Sumatera Barat dan Tenaga Ahli Bupati Solok Bidang Pendidikan dan Bintal)