Penerima BLT di Kota Payakumbuh tak Patuhi PSBB

oleh -582 views

PAYAKUMBUH, dekadepos.com-

Ratusan warga masyarakat penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kota Payakumbuh, sepertinya tidak peka atau tidak peduli dengan imbauan pemerintah sesuai yang telah ditetapkan dalam peraturan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Buktinya, warga penerima bantuan dari pemerintah pusat yang dilaksanakan di kantor Pos yang berada di jantung Kota Jalan Jenderal Sudirman Kota Payakumbuh itu, tampak berjubel dan tidak menjaga jarak seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan PSBB.

Padahal, peraturan yang telah ditetapkan dalam PSBB yang telah diberlakukan di kawasan Propinsi Sumatera Barat mulai tanggal 22 April hingga 5 Mei 2020 dan diperpanjang mulai tanggal 6 Mei sampai 29 Mei 2020, sangat erat kaitannya dengan jumlah kasus pendemi Covid-19 yang terus meningkat dan menyebar secara signifikan di beberapa wilayah di Sumbar, termasuk Kota Payakumbuh.

Jauh-jauh hari, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, telah menginstruksikan kepada pemko dan pemkab untuk mensosialisasikan beberapa aturan terkait diberlakukannya PSBB. Intruksi Gubernur tersebut, hakekatnya demi melindungi masyarakat dari wabah Covid-19.

Untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, Pemprov Sumbar telah mengeluarkan aturan tentang pembatasan aktivitas masyarakat, termasuk bagi institusi pendidikan untuk menutup kegiatan pendidikan sementara. Sedangkan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah.

Tak hanya itu, terkait aktivitas kerja dilakukan melalui Work from Home. Jika tetap beroperasi, wajib menerapkan pembatasan fisik secara ketat dengan meniadakan rapat, pelonggaran jam kerja, dan penggunaan masker. Setiap orang dengan penyakit penyerta dan ibu hamil dilarang beraktivitas di tempat kerja.

Disamping itu juga dilakukan pembatasan dalam melakukan kegiataan keagamaan di rumah ibadah. Kegiataan keagamaan dipindahkan ke rumah. Para penanggungjawab rumah ibadah diwajibkan untuk memberi pengertian kepada jamaah agar tetap melakukan kegiatan keagamaan di rumah.

Tegasnya, peratuan PSBB melarang masyarakat untuk melakukan kegiatan lebih dari lima orang di tempat atau fasilitas umum, kecuali pasar rakyat, swalayan, minimarket, toko kelontong, jasa laundry, dan toko bangunan.

Untuk efektifnya pelaksanaan PSBB, Gubernur Sumbar juga memberlakukan ketentuan bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang restoran, rumah makan, dan kafe, hanya boleh melayani pembelian dengan cara dibungkus.

Sedangkan untuk transportasi, jumlah penumpang kendaraan pribadi dan umum dibatasi yaitu hanya boleh 50 persen dari jumlah penumpang normal, dengan tak lupa menerapkan physical distancing, serta menggunakan masker. Untuk angkutan roda dua online hanya diperbolehkan untuk mengangkut barang, bukan penumpang. Selain itu, seluruh destinasi wisata, tempat karaoke, ditutup.

Untuk mencegah terpaparnya virus mematikan itu, warga masyarakat wajib menerapkan physical distancing, penggunaan masker, dan melakukan pola hidup bersih dan sehat.

Ternyata, semua aturan yang disampaikan Pemerintah yang seyogianya dapat dilaksanakan secara disiplin oleh masyarakat, demi keselamatan bersama, kurang dipahami oleh warga masyarakat penerima BLT di Kota Payakumbuh. (edw)