Perda Baca Al-Quran Belum Maksimal, Pemko Payakumbuh Bakal Lakukan Peningkatan

oleh -225 views

Payakumbuh, Dekadepos.com

Pemerintah Kota Payakumbuh bakal melakukan peningkatan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2008 tentang Kewajiban Pandai Membaca Al-Quran bagi Anak Sekolah dan Calon Pengantin. Hal tersebut diungkapkan Walikota Payakumbuh Riza Falepi melalui Kabag Kesra Ul Fakhri, menurutnya Perda tersebut mesti ditingkatkan kedepannya secara koordinasi terpadu. Di beberapa tempat masih ditemukan siswa SLTP sederajat yang belum bisa baca Al-Quran secara mandiri saat penerimaan siswa baru, sedangkan siswa tersebut sudah punya piagam khatam, disisi kedua terkait dengan pengantin, masih ada Calon Pengantin (Catin) yang tidak bisa baca Al-Quran.

Di Payakumbuh, dari 84 mesjid yang terdata, setidaknya ada sekitar 5,000 lebih santri yang ikut khatam tiap tahunnya. Sebagian dari mereka, masih didapati santri yang belum mandiri baca Al-Quran, namun sudah ikut khatam demi mendapatkan salah satu syarat melanjutkan pendidikan di SLTP sederajat. Perda Nomor 10 Tahun 2008 digagas Pemko Payakumbuh untuk mengantisipasi generasi Payakumbuh buta tulis baca Al-Quran.

“Pelaksanaan Perda No. 10 Tahun 2008 mesti kita optimalkan lagi. Melalui Bagian Kesra, kami akan rangkul Kemenag, Diknas, LDS, FKDT, hingga guru TPQ dan MDTA,”sebut Kabag Kesra Ul Fakhri baru-baru ini.

Ia juga menambahkan, tahun 2018 telah dialkukan seleksi guru TPQ dan MDTA untuk program hafidz melalui workshop yang mendatangkan narasumber khusus, termasuk akan melakukan evaluasi tenaga atau petugas seleksi khatam sehingga peserta khatam mendatang memiliki kompetensi.

Kalau santri masuk SLTP sederajat sudah bisa mandiri membaca dan menulis Al-Quran secara baik, pastinya nanti mereka juga bisa menerapkan dan membuktikan bahwa mereka bisa baca Al-Quran saat memasuki prosesi pernikahan. Itupun kalau bacaan Al-Quran dilanjutkan sebagai sebuah kebutuhan rutin.

Terpisah, Kepala Kankemenag Kota Payakumbuh melalui Kepala KUA Payakumbuh Barat Resfi Yendri membenarkan bahwa masih ada temuan bahwa ada santri yang belum fasih sudah ikut khatam. “Masih ada kita jumpai kasus itu. Terkait Catin juga kta jumpai, tapi porsinya kecil. Kita hanya bisa kasih saran semata. Karena regulasi yang kuat, tidak ada. Selain itu, kalau kita kaitkan dengan budaya dan kaitan adat, kedua kasus itu tidak bisa diungkai. Khatam al quran dan pernikahan sudah diawali seremonial adat di satu nagari.” Ujarnya kepada Wartawan.

Semoga kedepannya kita bisa duduk bersama membuat sebuah keputusan yang pas. Payakumbuh memulainya, Insyaallah dengan koordinasi kita yakin bisa,”beber Resfi Yendri. (Edw)