Peternakan Sapi Perah

oleh -1.780 views
Sapi Friesien Holstein (FH). (net)

ARTIKEL INI DITULIS OLEH: NISRINA (MAHASISWI POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR)

Usaha ternak sapi perah memiliki banyak keuntungan, selain menghasilkan susu, kotorannya juga dapat dijadikan sebagai pupuk, kemudian kulitnya juga bisa dimanfaatkan sebagai kerupuk kulit, alat musik dan bahan industri lainnya.

Selain itu, sapi perah yang sudah tidak berfungsi atau afkir, dagingnya juga bisa dijual seperti daging sapi potong.

Ada Dua jenis sapi perah yang sering di jumpai di Indonesia yakni sapi Friesien Holstein dan sapi Jersey. Karena dua jenis sapi ini sangat cocok dengan suhu di Indonesia yang termasuk kedalam musim tropis.

  1. Friesien Holstein (FH)

Sapi Friesien Holstein (FH) ini Berasal dari Provinsi Friesland di Belanda. Sapi FH memiliki badan yang besar, bobot badan sapi jantan bisa mencapai 625 kg. Ukurannya paling besar dibanding jenis lain.

Sapi ini memiliki ciri utama warna kulit hitam putih, tanduknya pendek mengarah ke depan. Produksi susu di daerah asalnya bisa mencapai 7245 kg per masa laktasi. Sedangkan di Indonesia 4500-5500 liter per masa laktasi atau setara dengan 10 liter susu/liter/hari

2. Sapi Jersey

Sedangkan Sapi Jersey Berasal dari Pulau Jersey terletak diantara Inggris dan Perancis. Sapi Jersey memiliki warna tubuh yang beragam, mulai dari hitam, merah tua, coklat kekuningan terkadang dibagian tertentu ada warna putihnya.

Tanduk sapi ini lebih panjang dari pada FH dan mengarah ke atas. Bobot sapi ini mencapai 625 kg untuk pejantan dan 425 kg untuk yang betina. Produktivitas susunya mencapai 2500 liter/masa laktasi.

Pakan hijauan yang biasa diberikan kepada sapi perah yaitu:

Limbah pertanian, seperti daun jagung, daun kacang tanah, jerami padi, sorgum dan lain-lainnya.
Rumput alam atau rumput lapangan.
Rumput hasil budidaya, seperti rumput gajah, rumput bengala, rumput mexico dan sulanjana.
– Pakan tambahan untuk sapi masa laktasi (menghasilkan susu) maka disarankan beri konsentrat yang kaya akan protein seperti ampas tahu, bungkil kelapa dan complete feed dengan kandungan protein 15%.

Kandang

Kandang sapi perah dirancang untuk usaha pembibitan dan produksi susu sesuai dengan priodenya, mulai dari pedet, sapi dara, sapi pejantan, dan sapi dewasa secara baik, aman, sehat dan masa hidup yang panjang. Sistem perkandangan umumnya sudah memenuhi syarat kandang baik dari kontruksi bangunan seperti lantai, atap, dinding, ventilasi, kandang menyusui, kandang partus dan pengolahan limbahnya.

Sistem perkandangan sapi perah yang baik menggunakan sistem kandang tail to atau ganda dengan sapi saling bertolak belakang. Kandang ini sebagai tempat tinggalnya ternak untuk melindungi diri dari gangguan yang datang dari luar seperti, hujan, angin, panas matahari, binatang buas, dan lain-lain.

Kandang juga berguna untuk memudahkan peternak dalam melakukan pengelolaan ternaknya. Ukuran kandang untuk sapi pejantan 2×2,5 m, untuk sapi betina 1,8×2 m, dan kandang pedet cukup 1×1,5 m per ekor. Temperatur kandang sekitar 25-400C dan kelembaban sekitar 75%.

Pemeliharaan

Pemeliharaan hal utama yang harus diperhatikan yaitu ransum dan kesehatan. Sapi perah bunting harus mendapat energi yang cukup, tapi jangan berlebihan akan kegemukan dan menyebabkan susah melahirkan (distokia).
Perawatan pada periode pertumbuhan sangat penting dalam tata laksana pemeliharaan sapi perah, maka produksi susu yang baik dan optimal akan tercapai saat periode sapi laktasi.

Produksi yang baik dan optimal akan tercapai bilamana sapi mempunyai alat pencernaan yang besar dan kuat, ambing yang baik dan alat pencernaan yang berkembang sesuai dengan pertumbuhannya dengan cara memelihara sapi perah sejak lahir secara terprogram.

Pedet yang baik memiliki bobot lahir 31,5 sampai 51,5 kilo gram, dengan bulu yang mengkilat, dan kondisinya sehat. Apabila pedet sudah lahir harus sesegera mungkin kita berikan pada pedet karena kolestrum merupakan zat antibodi bagi pedet tersebut, sehingga dapat melindungi pedet yang baru lahir dari infeksi kuman dan bakteri. Apabila kolestrum tidak keluar bisa digantikan dengan pemberian 1/2 susu murni yang dicampurkan dengan 1 sendok minyak ikan dan 1 kuning telur.

Penyakit

Penyakit yang sering dialami oleh sapi perah yaitu:

  1. Mastitis (radang ambing) disebabkan oleh staphylococcus aureus dan streptococcus agalactiae.
  2. Brucellosis disebabkan Brucella abortus.
  3. Milk fever disebabkan oleh kekurangan kalsium dalam darah.
  4. Bloat disebabkan oleh gas yang berlebihan didalam rumen.
  5. Anthrakx disebabkan oleh bacillus anthracis perdarahan subkutan dan subserosa.
  6. Retensi plasenta disebabkan oleh infeksi uterus selama kebuntingan.

Umur dewasa kelamin pada sapi perah 6-18 bulan kisaran 4-24 bulan. Umur perkawinan pertama pada sapi perah dianjurkan 14-22 bulan. Umur kebuntingan pada sapi perah berkisar 279 hari degan jumlah anak yang dilahirkan 1 ekor/tahun.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.