Phobia Corona, Jenazah Warga 50 Kota Nyaris tak Dimakamkan

oleh -8.016 views

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com

Ini benar-benar sebuah tragedi kemanusian. Betapa tidak, hanya gara-gara khawatir dan takut bakal terpapar virus corona, seorang warga yang meninggal dunia secara mendadak, tidak seorang pun warga setempat bersedia menyelamatkan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani dan mensholatkan serta mengguburkan.

 

Tragedi kemanusian ini terjadi di Nagari Solok Bio-bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Seorang warga setempat bernama Buyung (53 tahun) Selasa (12/5/2020) sekitar pukul 09.15 Wib meninggal dunia di kediamannya secara mendadak dengan riwayat mencret serta sakit di bagian dada.

 

Namun, ketika kabar kemanusian ini dilaporkan tokoh masyarakat setempat, Mainanda, kepada Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferisal Ridwan, orang nomor dua di Kabupaten Limapuluh Kota yang akrap disapa Buya Feri itu, langsung menyikapi kasus tersebut dengan positif dan datang ke rumah duka.

 

Menurut Wabup Ferizal Ridwan, kematian Buyung secara mendadak itu membuat masyarakat setempat ketakutan akan virus Covid-19. Akibatnya, tidak satupun  warga mau menghampiri dan mengurus jenazah almarhum.

 

“Meskipun petugas Kecamatan bersama petugas medis ada datang ke rumah duka, namun aparat tersebut hanya melihat dari jarak jauh saja dan mereka hanya sekadar mempertanyakan riwayat penyakit yang diderita almarhum. Bahkan, para petugas tersebut berkesimpulan tidak ada masalah dan menyarakankan laksanakan saja proses pemakaman almarhum, walau pun para petugas tersebut tidak mau menyentuh jenazah almarhum, “ungkap Wabup Ferizal Ridwan mengulangi keterangan yang diterimanya dari warga setempat.

 

Diakui Wabup Ferizal Ridwan, sampai pukul 14.30 Wib setelah dia datang ke rumah duka dan berhasil menenangkan warga serta keluarga, kemudian mengambil keputusan bahwa jenazah almarhum harus diselamatkan.

 

“Namun ketika saya minta siapa yang bersedia turun tangan membantu menyelamatkan almarhum, tidak seorangpun saat itu yang bersedia dan mau membantu penyelamatan jenazah,” ungkap Wabup Ferizal Ridwan.

 

Dengan mengajak tokoh masyarakat, Walinagari dan keluarga akhirnya dengan menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) sederhana, akhirnya ada 4 orang warga bersama Walinagari dan 2 orang perangkat nagari, Babhinkantibmas dan Babinsa bersedia membantu menyelamatkan almarhum mulai memindahkan jazadnya dari lokasi semula ia tergeletak, memandikan, mengkafani dan menyolatkan sampai pemakaman dipimpin langsung oleh Wabup Ferizal Ridwan. 

 

“Alhamdulliah, untuk menggali pemakaman dan membuat peti ada 10 orang yang bersedia membantu. Namun yang sangat memprihatinkan, saat menyolatkan almarhum jamaah hanya bertiga yakni satu perangkat nagari dan istri almarhum dan saya sebagai imam,” ungkap Wabup Ferizal Ridwan.

 

Menurut Wabup Ferizal Ridwan, dia sangat menyesali kenapa peristiwa kemanusian seperti ini harus terjadi. “Apakah kita harus seperti ini seterusnya? Apakah ini harus bicara kewenangan lagi, walau disitu camatnya juga hadir menyaksikan. Jujur, apa yang saya lakukan hanyalah urusan kemanusian, bukan karena Pilkada atau karena pencitraan. Mohon maaf, apa yang saya lakukan untuk warga masyarakat, hanya sebatas urusan kemanusian. Karena dalam prinsip hidup saya, urusan kemanusian di atas dari derajat kemulian jabatan,” pungkas Wabup Ferizal Ridwan. (Edw)