Program Pelatihan Ketrampilan di LPKA Butuh Mitra

Limapuluh Kota, Dekadepos.com

Berbagai jenis program atau pelatihan ketrampilan/kecakapan hidup terus diberikan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Tanjutng Pati – Sumatera Barat, namun belum banyak pihak-pihak yang mau dan peduli untuk menjalin kemitraan berupa kerjasama dengan LPKA sebagai tindak lanjut atas ketrampilan yang dimiliki ratusan warga binaan baik anak-anak maupun perempuan.

Sebelumnya, di LPKA yang dahulunya bernama Lapas Perempuan Tanjung Pati itu juga telah digelar pelatihan pembuatan mantel plastik dengan sistem mantel. Kegiatan yang melibatkan warga binaan perempuan itu, disambut baik salah satu perusahaan asal Pekan Baru-Riau, perusahaan tersebut menjalin kerjasama dengan pihak lapas dalam mempekerjakan warga binaan untuk membuat mantel plastik. Tak hanya sekedar kerjasama, warga binaan juga diberikan haknya (upah.red) dari setiap kodi mantel yang selesai dibuat.

Selain pelatihan membuat mantel plastik, di LPKA pada tahun 2020 ini juga dilaksanakan pelatihan ketrampilan design dan sablon. Kegiatan yang digelar sejak 13 sampai 27 Februari 2020 itu mendatangkan instruktur yang berpengalaman di bidangnya masing-masing. Intruktur tersebut berasal dari Bayu Grafika dan Carano Advertsing.

Kepala LPKA Tanjung Pati, Tapianus A. Barus mellaui Kasi Pembinaan, Masri Fabrar dan Sri Hayati, Staf Subsi Pendidikan dan Bimkemas menyebutkan bahwa memang banyak program-program ketrampilan yang digelar untuk membekali warga binaan, namun pihaknya terus berharap adanya pihak-pihak yang peduli untuk bekerjasama menindaklanjuti dari pasca pelatihan yang kita gelar.

” Kita tentu berharap pihak-pihak yang peduli dengan warga binaan kita bisa menjalin kerjasama. Seperti ketrampilan mambuat mantel, kita telah bekerjasama dengan perusahaan asal Pekanbaru. Dan untuk sablon ini kita juga berencana akan bekerjasama dengan pihak sablon nantinya untuk membantu mengerjakan pesanan/order sablon yang mereka terima.” Sebut Masri Fabrar diamini Sri Hayati, Senin 17 Februari 2020.

Masri Fabrar juga menambahkan, selain mengharapakan adanya kerjsama dari pihak-pihak luar yang dapat membantu warga LPKA dalam mengembangkan ketrampilan yang telah diperoleh, pihak LPKA juga berharap ketrampilan yang telah diperoleh warga binaan dapat dikembangkan setelah mereka bebas dari menjalani hukuman/pembinaan.

Sementara Syofyan Syam, salah seorang instruktur menyebutkan bahwa puluhan peserte cukup cepat menangkap materi yang diberikan, namun menurutnya yang terpenting dalam menyablon bukan hanya proses memindahkan gambar ke bahan kain, plastik atau baju, tapi juga proses pemindahan film dan mencuci fim setelah digunakan.

” Sejauh ini mereka cukup bagus, namun yang harus diperhatikan adalah proses pemindahan film ke alat pencetak sebelum disablon, termasuk untuk membersihkan film (alat sablon.red) setelah digunakan.” Ujarnya.

Yanda (18) warga binaan Asal Solok yang juga peserta pelatihan ketrampilan Design dan Sablon mengaku cukup senang mengikuti pelatihan. Ia berencana akan membuka usaha sablon setelah bebas nantinya.

” Setelah bebas nanti, saya akan buka usaha sablon.” Ucapnya dengan yakin. (Edw).