Pulang

oleh -66 views
Foto : Rakyatku News

Cerpen : Irawati CH

Umur dua puluh tahun,  aku pergi merantau. Kulangkahkan kaki diiringi ratapan mandeh kanduang. Berjalan perlahan menuju tanah seberang, terselip doa mandeh,  semoga anak kanduang sibiran tulang pulang dengan selamat. Tak berharap si anak pergi merantau dan pulang dengan harta yang melimpah,  hanya tak ingin diri mandeh dilupakan.

Sesampai di negeri orang, semua bekal yang dibawa dari kampung telah habis. Namun pekerjaan yang diharapkan tak kunjung di dapat. Satu-satunya yang tersisa hanya cincin emas pemberian mandeh kanduang. Bukan lelaki Minang namanya jika harus mati kelaparan dirantau orang. Ku jual cincin dari mandeh, kucoba berjualan rokok dari gang ke gang. Alhamdulillah berkat do’a mandeh, usaha pun berkembang sehingga bisa membuka sebuah warung makan setiap malam.

Awalnya aku berjualan sendiri,  tapi karena pembeli yang cukup ramai dan permintaan agar jenis masakan beragam aku pun mencari dua orang karyawan. Salah seorang karyawanku seorang gadis hitam manis, gadis Jawa yang menyita perhatianku. Senyuman dan lirikan matanya membuatku betah berlama-lama didekatnya.

Tak mau terlalu lama berlarut dalam dosa karena memikirkannya sepanjang hari, ku beranikan diri untuk melamarnya. Kusempatkan mengirim surat dan sejumlah uang pada ayah dan mandeh. Tapi surat balasan yang kuterima tidaklah sesuai dengan harapanku. Mandeh menuliskan kalau beliau dan ayahku tidak merestui pernikahanku dengan Juminten gadis keturunan Jawa pujaan hatiku. Disurat itu dituliskan bahwa mandeh dan ayah telah menjodohkanku dengan Rapiah, gadis manis berkerudung yang pemalu. Tapi cintaku pada Juminten lebih melenakan dari pada Rapiah yang lebih hobi kesurau.

Tak lagi ku indahkan petuah mandeh dan ayah kandung yang memintaku untuk pulang. Kunikahi Juminten tanpa restu dari orangtuaku.

Sepuluh tahun berumahtangga kami belum juga dikaruniai putra. Tapi sayangku pada Juminten tak mempedulikan itu. Sampai pada suatu hari, kuterima sepucuk surat dari kampung halaman. Mengabarkan kalau mandeh kanduang sakit keras. Kucoba bercerita pada Juminten tentang kabar yang kuterima, Sekalian bermaksud ingin mengajaknya Pulang kekampungku. Tapi jJuminten tidak mau,  Dia berdalih sakit hati pada orangtuaku Karena dulu tidak menyukainya.

Beberapa hari kemudian, sebuah telegram menuliskan kalau mandeh kanduang telah berpulang. Lagi-lagi Juminten tidak membolehkanku pulang, bahkan dia mengancam hendak bercerai.

Sejak hari itu tak pernah lagi kuterima kabar apapun Dari kampung halaman. Mungkin semua keluarga di kampung telah menganggapku tiada. Hingga pada suatu hari, Juminten jatuh sakit. Berbulan-bulan dirawat dirumah sakit. Semua uang yang kukumpulkan mati-matian habis tak bersisa. Namun penyakit Juminten tak kunjung sembuh. Kuputuskan untuk merawatnya dirumah saja.

Hari dimana aku merasa sendiri, saat Juminten tempatku bercerita dan berkeluh kesah telah pergi meninggalkan untuk selamanya. Merasa tak ada lagi gunanya aku disini. Kujual rumah satu-satunya harta yang kumiliki. Kutinggalkan tempat penuh kenangan itu. Tujuan satu-satunya adalah Tanah Minang kampung halamanku. Mungkin saja bapak masih ada. Mungkin saja rumah mandeh masih bisa kutempati.

Dengan dada berdebar kelangkahkan kaki memasuki gapura kampungku. Pos ronda yang ramai membuat langkahku berhenti dan berjalan memasukinya. Ternyata tidak ada apa-apa, hanya para pemuda yang sedang berkumpul dan bermain game online.

Kuseret langkah demi langkah, tak lagi kudapati kampungku yang dulu. Hanya beberapa rumah yang masih sama namun sudah terjepit diantara rumah-rumah bagus lainnya. Semuanya juga sudah direnovasi tak ada lagi rumah bagonjong dan atap ijuk. Lapangan tempatku bermain bola dan berlatih silat pada malam hari telah berubah menjadi swalayan. Surau atap ijuk tempat aku belajar mengaji dan tidur setiap malam, tak lagi ada berganti dengan sebuah rumah mewah, tak berapa banyak hal yang tersisa. Zaman telah berganti, semua juga sudah mengikuti peradabannya.

Rumah orangtuaku, masih seperti yang dulu. Halamannya yang luas sekarang sudah sempit, ada dua buah rumah permanen disana menyisakan jalan setapak menuju jenjang rumah gadang. Kupijak jenjang yang sudah mulai lapuk perlahan-lahan,  kucoba membuka pintu. Tidak terkunci. Mungkin saja ayah ada didalam. Derit pintu yang berdecit menandakan sudah lapuk dimakan usia, seperti diri ini yang mulai renta. Aroma seperti koran basah menandakan lamanya jendela dan pintu tidak terbuka. Kuletakkan tas ransel dilantai, tak perlu kubuka sepatu karena lantai yang berdebu. Semua kenangan dirumah ini berputar dalam kepalaku seperti sebuah tayangan Film. Masih ada foto Ayah, mandeh dan aku terpajang didinding penuh dengan sarang laba-laba.

Memasuki kamar mandeh, airmataku tak mampu lagi kutahan. Letak lemari dan dipan masih sama seperti dulu. Hanya saja lemari dan beberapa pakaian telah rusak dimakan ngengat. Tempat tidur tampak kotor dan kasur usang digulung dengan kain panjang lusuh.

Kuambil sapu ijuk disudut ruangan kusapu dan kubersihkan kamar itu, sambil sesekali menyeka airmata yang jatuh berderai. Badan yang lelah membuatku ingin merebahkan tubuh, namun tiba-tiba teriakan anak kecil dihalaman “Ibuuu, ada maling dirumah gadang!! “. Lalu terdengar seorang wanita yang menenangkan anaknya. Tak lama terdengar langkah kaki beberapa orang menapaki anak tangga. Suara sangar seorang lelaki mengagetkanku “Siapa di dalam? “. Ya Allah, ternyata yang dikatakan maling adalah aku. Tergesa aku berdiri dan keluar dari kamar. Melihat kuberdiri di ambang pintu, semua mata memandangku seperti melihat hantu. “Ini saya, tek” kataku terbata “maafkan kalau kehadiranku mengagetkan semuanya”.

“Benarkah ini waang Samsul? ” perlahan seorang wanita tua yang menggunakan selendang panjang dan dililitkan dikepala, baju kurung yang dipakainya masih model yang  sama dengan baju mandeh saat melepas kepergianku.

“Iya tek, maafkan saya” Kataku sambil bersimpuh dikaki renta itu “Dimana makam mandeh, tek?”

“Dipemakaman umum dikampung ini, Ayah waang juga dimakamkan dekat mandeh waang”. Kata Etek Siar sambil mengusap air matanya.

“Apakah ayah juga telah tiada tek? “.

“Iya. Ayahmu meninggal setelah 40 hari kepergian mendehmu”.

Hilang sudah rasa penat, hanya kesedihan dan penyesalan yang tersisa. Ditemani anak etek Siar kuseret langkah yang terasa berat menuju kuburan ayah dan mandeh. Bersimpuh di batu nisan yang sudah berlumut. Pudiang ameh sebagai penanda kuburan itu sudah tinggi, rumput -rumput liar tumbuh menutupi makam orang-orang terkasih. Tak terurus sama sekali. Dengan airmata berlinang kubersihkan makam ini. Setelah magrib barulah aku keluar dan beristirahat. Saat tidur malam aku bermimpi Ayah Dan mandeh datang dan tersenyum padaku. Sudah dua puluh lima tahun tak pernah hadir sekalipun dalam mimpiku.

Esok paginya kutatap hari dengan pasti, akan menghabiskan seluruh hidupku dirumah mandeh akan merawatnya dan berziarah kemakam mereka berdua. Masih ada uang sisa menjual rumahku dapat kugunakan untuk modal mengolah parak dibelakang rumah, dengan menanami cabe rawit. Alhamdulillah selama aku hidup aku bisa memakai lahan mandeh.

Matua, Maret 2020.