Ratusan Masyarakat Payakumbuh Minta Bro Kafe Resto Karaoke Family Ditutup

oleh -5.710 views

Payakumbuh, Dekadepos.com

Ratusan masyarakat dari berbagai unsur di Kota Payakumbuh meminta Pemerintah Kota Payakumbuh untuk menutup aktivias sebuah Cafe di Kelurahan Padang Datar Kecamatan Payakumbuh Barat yang dinilai sudah sangat meresahkan.

Keinginan kuat masyarakat Nagari Koto Nan Ampek khususnya Kelurahan Padang Data Tanah Mati untuk menghentikan operasi Cafe yang tidak jauh dari Mesjid di daerah itu terlihat dari surat pernyataan yang dilayangkan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkoimda) Kota Payakumbuh yang ditanda tangani oleh lebih dari 200 orang yang terdiri dari unsur Niniak Mamak, Ulama, Bundo Kanduang, Pemuda, serta tokoh masyarakat dan masyarakat Nagari Koto Nan Ompek.

Bahkan, juga ada stempel LPM, Pengurus Mesjid Nurul Jihad Padang Data, Pengurus Mesjid Mukhlishin Padang Ampiang, serta Pengurus Mesjid Ausath Subarang Batuang.

Di dalam surat pernyataan itu, masyarakat Koto Nan Ompek menyatakan secara tegas meminta kepada Kapolres Payakumbuh, beserta seluruh Forkopimda Kota Payakumbuh mulai dari Wali Kota Riza Falepi, Dandim 0306/50 Kota, hingga lapisan pemerintah daerah tingkat terendah di Kota Payakumbuh untuk melakukan penghentian kegiatan operasi “BRO CAFE RESTO & KARAOKE FAMILY” yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Kelurahan Padang Data Tanah Mati, Kecamatan Payakumbuh Barat.

“Karena kegiatan yang telah dilakukan oleh BRO CAFE ini sangat meresahkan masyarakat, disebabkan adanya bentuk-bentuk perbuatan maksiat yang telah dilakukan di tempat tersebut. Sikap yang kami ambil saat ini adalah bentuk upaya penolakan perbuatan maksiat dilakukan di Kota Payakumbuh, terkhusus di kampung kami Kanagarian Koto Nan Ompek,” bunyi surat tersebut.

Adapun bentuk beberapa langkah dan upaya yang telah dilalui oleh masyarakat adalah yang pertama audiensi yang telah dilakukan dengan kepala daerah dan beberapa Kepała OPD pada Rabu, 24 Februari 2021 di Kantor Balai Kota Payakumbuh, setelah adanya laporan tertulis yang dilayangkan kepada Walikota Payakumbuh.

Kedua, setelah dilakukan audiensi bersama Walikota dan Kapolres, lalu diterbitkan SP1 (Surat Peringatan) yang ditujukan pada Kiki Riski Agus Saputra selaku Pengelola Cafe tersebut.

Kemudian pada tanggal 13 April 2021, diterbitkan lagi teguran ke-2 yakni SP2, karena Kiki Agus Saputra dianggap telah mengabaikan surat teguran pertama (SP1).

“Maka dari itu besar harapan kami agar Pemerintah Kota Payakumbuh yang dikomandoi oleh Wali Kota Payakumbuh bersama Kapolres Payakumbuh dan Dandim 0306/50 Kota untuk dapat bertindak tegas menutup “Bro Café Resto & Family”, dengan dilandasi alasan-alasan yang secara keagamaan, adat, serta secara yuridis dan relevan karena telah menimbulkan keresahan masyarakat,” bunyi surat tersebut.

“Keresehan itu meliputi perbuatan Bro Café Resto & Family nyata-nyata telah melanggar falsafah Minangkabau “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kituabullah”. Karena falsafah adat ini memang perlu dijaga dan dilestarikan nilai-nilainya dalam tatanan dan norma kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Kota Payakumbuh,” seperti yang tertulis.

Kemudian, sesuai dengan Pasal 13A Perda Kota Payakumbuh Nomor 12 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Nomor 01 Tahun 2003 Tentang Pencegahan, Penindakan, dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat dan Maksiat.

“Wali Kota berkewajiban untuk menghentikan seluruh kegiatan cafeyang membuat keresahan berdasarkan masukan, pengamatan ataupun temuan dari masyarakat,” begitu akhir dari surat pernyataan masyarakat Koto Nan Ompek.

Sementara itu, Ketua LPM Rinal, Rabu (24/11) kepada wartawan mengatakan bersama tokoh masyarakat akan menemui wali kota untuk menyerahkan surat pernyataan yang telah diproses selama kurang lebih beberapa bulan ini.

“Kami berharap wali kota bisa mendengar aspirasi masyarakat Koto Nan Ompek, kalau bisa segala bentuk maksiat bisa kita perangi karena maksiat menjauhkan berkah dari negeri kita,” ujar Rinal.

Sementara itu, Ketua Pengurus Mesjid Nurul Jihad Padang Data Zuldaswar menyampaikan keresahan dari jemaah mesjid ibu-ibu saat pergi salat subuh, sering mendapati adanya perempuan yang dibawa laki-laki di kafe tersebut, padahal sesuai aturan pemerintah, kafe itu harus tutup pukul 12 malam.

“Sudah banyak didapati pelanggaran terhadap norma agama dan adat kita, kami sebagai pengurus mesjid sudah berembug pula dengan pengurus mesjid lainnya, intinya kami sudah seprinsip dan seirama untuk meminta wali kota menutup usaha maksiat ini,” kata Zuldaswar.

Zuldaswar mengatakan dari awal, jemaah mesjid tidak menyetujui adanya usaha hiburan ini karena selain mengandung maksiat, juga berada di tepi jalan raya dan di lokasi dekat mesjid dan musala. (Edw).

No More Posts Available.

No more pages to load.