Setelah Porstitusi Artis, Giliran ABG Jadi Korban, Dalam Sehari Layani 8 Tamu

oleh -1.216 views
Ilustrasi penangkapan Porstitusi ABG dibawah umur (dok:net)

Kriminal, dekadepos.com

Setelah berapa waktu lalu, pihak kepolisian berhasil membongkar portistitusi online kalangan selebritis. Kali ini, giliran ABG dibawah umur yang terlibat praktik Prostitusi yang berhasil diungkap kepolisian daerah Bali.

Mirisnya, diketahui dalam praktek porstitusi ini, sang mucikari berinisial NKS (49) dan NWK (51) juga mejajakan ABG yang masih berusia 14 tahun.

“Benar, dari pengungkapan kasus ini terdapat korban gadis cilik yang masih berusia 14 tahun dijual ke lelaki hidung belang. Ironisnya, gadis ini dipaksa melayani tamu hingga 8 orang perhari,” ujar Kasubdit IV Renakta Polda Bali Ajun Komisaris Besar Sang Ayu Putu Alit Saparini.

Menurutnya, Akibat banyak melayani pelanggan tiap hari, anak yang berumur 14 tahun itu sampai susah buang air kecil (maaf). “Bayangkan, mereka bekerja dari jam 5 sore sampai jam 5 pagi. Korban rata-rata dari Bekasi, Jawa Barat,” tambah Ayu Putut, Sabtu (12/1/2019), seperti dilansir dekadepos.com dari halaman Suara.com.

Sementara ini, Ditreskrimum Polda Bali berhasil mengamankan 5 anak di bawah umur korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan dua orang tersangka.

Kelima korban masing-masing berusia 17, 14, 14, 15 dan 16. Mucikari kelima korban ini ditangkap di tempat prostitusi 3B Jalan Sekar Waru 3B Sanur Denpasar Selatan.

Dijelaskan Ayu Putut, rata-rata gadis cilik yang dijual ke pria hidung belang itu berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Modusnya mengajak ABG ini ke Bali dengan memberika sejumlah uang.

”Saat direkrut, mereka diberi Rp 500 ribu. Mereka juga dibelikan tiket pergi ke Bali, ditampung dalam rumah pelaku,” jelasnya.

Perekrutan di Bekasi dilakukan atas suruhan pelaku NKS. Para gadis dijanjikan bekerja halal di Bali dengan gaji Rp 5 juta sampai Rp 11 juta per bulan.

Usai tergiur janji, korban kemudian dibelikan tiket pesawat ke Bali. Selama di Bali, kelima korban ditampung oleh pelaku NKS.

“Tapi setiba di TKP, korban malah dijual kepada lelaki hidung belang, dipajang dan dieksploitasi di Hall 3B milik tersangka.Mereka dieksploitasi secara seksual dengan tarif Rp 250 hingga Rp 300 ribu per jam dan setiap harinya melayani laki-laki antara 1 sampai 8 orang,” terangnya.

Agar mau menjadi PSK, gadis-gadis cilik itu dijerat memakai utang, sehingga mereka terpaksa mau demi membayar utang pada mucikari.

Keadaan psikologis anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia dalam kondisi labil.

“Jujur saja kadang mereka labil. Kadang mereka ingin sekali dibantu dan keluar dari situ. Tapi biasa juga seiring waktu, mereka kadang memberi tahu bahwa mereka rela dan terpaksa lakukan itu karena tergiur materi,” imbuhnya.

“Jadi memang butuh pendamping untuk menstabilkan pemikiran anak tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan dia akan menikmati, apalagi berada di lingkungan seperti itu. Nah itu tugas pendamping membimbing ke jalan yang benar,” kata dia.

Maka dari itu, penanganan kasus perdagangan manusia tersebut, bukan hanya aspek hukum, tapi pencegahan, rehabilitasi, dan restitusinya.

“Mengembalikan korban ke tengah masyarakat agar diterima. Itu sangat penting, bukan soal hukum saja,” ujarnya.(S/Rmp)