Solidaritas yang Mulai Menipis dari Jurnalis Luak Limopuluah

Solidaritas yang Mulai Menipis dari Jurnalis Luak Limopuluah

(Goresan: Doddy Sastra- Anggota Balai Wartawan Luak Limpuluah)

KALANGAN jurnalis, utamanya insan pers yang tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di seluruh jagad raya tanah air, termasuk rekan-rekan wartawan yang bertugas di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, pada tanggal 9 Februari 2024 memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke 78.

Meskipun belum dan atau tidak semua wartawan yang bertugas di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota bergabung dalam wadah organisasi PWI. Namun semangat kebersamaan dalam rangka peringati Hari Pers Nasional (HPN) ke-78 tahun 2024, tidak pernah pudar dan bahkan terus menyala-nyala dalam sanubari setiap insan pers yang ada di ke dua daerah itu.

Memperingati HPN, bagi segenap insan pers, termasuk wartawan dan wartawati yang bertugas di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, sepertinya ada sekeping kebahagian dan kebanggaan yang mereka rasakan.

Betapa tidak, pada peringatan hari bersejarah bagi dunia jurnalistik itu, ucapan selamat HPN datang bertubi-tubi dari Kepala Daerah, Kepala Dinas dan Instansi, para pejabat, tokoh masyarakat, para politisi, pimpinan partai politik dan segenap mitra kerja yang selama ini merasa terbantu dengan tugas-tugas jurnalistik yang diemban kawan-kawan media sebagai penyampai informasi.

Namun, ditengah kemeriahkan dan gegap gempita peringatan HPN ke 78 tahun 2024 yang dirasakan kawan-kawan wartawan yang bertugas di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, ada sebuah catatan yang pantas menjadi renungan bagi sesama insan pers, yakni tentang mulai menipisnya solidaritas insan pers Luak Limopulah terhadap tradisi ‘mengenang’ yang sudah bertahun-tahun terus kita lakukan yakni, kunjungan ziarah dan tabur bunga ke makam  perkuburan alarhum dan almarhumah wartawan dan wartawati senior Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota yang telah pergi mendahului kita untuk selama-lamanya meninggalkan kenangan tentang dunia jurnalistik yang mereka geluti, termasuk meninggalkan keluarga, anak dan istri, para kerabat dan kawan-kawan seprofesi yang dulu pernah mereka banggakan.

Tidak tahu siapa yang salah dan juga tidak ada yang perlu dipersalahkan atas mulai menipisnya solidaritas para insan pers Luak Limopuluah yang sejak dua tahun terakhir, tidak lagi melakukan kunjungan ziarah ke pandan perkuburan wartawan dan wartawati senior Luak Limopuluh yang dulu pernah mewarnai dunia jurnalistik di ranah Luak Limopuluah ini.

Yang pasti, dulu, pada tahun-tahun sebelumnya, kunjungan ziarah dan tabur bunga ke makam pendahulu rekan-rekan wartawan dan wartawati senior yang telah pergi meninggalkan kita, menjadi budaya yang setiap tahun pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) terus dilakukan kawan-kawan jurnalis Luak Limopuluah. Tapi, entah kenapa, sejak dua tahun terakhir budaya ziarah dan tabur bunga ke makan kerabat seprofesi itu seperti terabaikan.

Akhir goresan pendek ini, rasanya tak ada ungkapan yang dapat dinukilkan lagi untuk mengenang Bapak, Abang atau Uda dan Uni serta teman-teman sejawat sesama wartawan yang telah pergi meninggalkan kami.

Pada Hari Pers Nasional 9 Februari 2024 ini, dari lubuk hati kami paling dalam seluruh insan pers yang ada di Luak Limopuluah, hanya mampu melafazkan sepotong do’a dan Al Fatihah untuk rekan jurnalis senior yang telah pergi meninggalkan kami di dunia yang fana penuh perjuangan ini.

Semoga Allah SWT memberikan tempat yang sejuk dan damai di surgaNya. Aamin Yarabbal Alamin. (*)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *