“Tak Bajojo, Ya..tak Makan”

oleh -182 views

HIDUP adalah garis-garis nasib. Garis-garis nasib yang terkadang berjalan baik dan terkadang berjalan buruk. Namun, seburuk apapun garis nasib, seseorang tidak boleh putus asa. Apalagi pasrah meratapi nasibnya, karena nasib harus terus diperjuangkan meski jalannya tidak mudah.

Khaidir (87 tahun) kakek renta, papa dan miskin warga Kelurahan Parik Rantang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, adalah cermin dari nasib rakyat kecil yang pantas dan patut menjadi renungan.

Betapa tidak, meski sudah berusia lanjut dengan kondisi fisik tidak kuat lagi, kurus dan kini hanya tinggal kulit pembalut tulang, suami tercinta Nur (86 tahun) sudah dikarunia 2 orang anak yang keduanya sudah berumahtangga ini, dituntut oleh nasib untuk terus berjuang guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

 

“Jika tak bajojo (berjualan, red) ya.. tak makan,” ungkap kakek renta itu ketika diwawancarai saat dia menjajakan roti bakar di Jalan Sukarno Hatta, Koto Nan Ampek, Payakumbuh, Kota Payakumbuh, Kamis siang (30/8).

Menurut Khaidir, dia paham betul kalau laki-laki seumurnya, sebaiknya hanya menikmati hari tua tanpa harus berjuang lagi mencari nafkah. Apalagi bersusah payah terseok-seok, setiap hari harus mendorong gerobak dengan jarak  puluhan kilomoter  demi mencari sesuap nasi. Namun, sebagai warga miskin yang tak punya apa-apa, Khaidir tak berdaya menghadapi takdir keras kehidupan ini.

“Bagi saya, tak ada harapan untuk bisa duduk enak menikmati hari tua, kecuali dituntut untuk terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Jika satu hari saja saya tidak berjualan, alamat tak makan istri saya,” ungkap Khaidir dengan nada lirih.

Ketika ditanya berapa penghasilannya dalam satu hari dari hasil berjualan roti bakar yang dijajakannya, mantan juru masak rumah makan Asia Baru Payakumbuh itu mengaku jumlahnya tak seberapa.

“Kadang-kadang, kalau lagi banyak pelanggan yang membeli, penghasilan satu hari bisa mencapai Rp100 sampai Rp80 ribu. Tapi, kalau lagi sepi, tak sampai Rp 50 ribu dan bahkan ada yang hanya jual beli sebanyak Rp 30 ribu,” ungkap Khaidir.

Ketika ditanya, apakah dengan penghasilan sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya? Khaidir yang mengaku sudah hampir 20 tahun menjajakan roti bakar dengan gerobak reotnya itu, mengaku cukup tak cukup itulah rezekinya.

“ Meski pengasilan pas-pas, yah…itulah rezeki saya. Cukup tak cukup, yah.. harus dicukupkan. Makanya, jika saja satu hari saya tak berjualan, alamat tak makan istri saya,” ujar kakek malang itu  mengulangi kalimatnya dengan nada pasrah.

Ketika ditanya bagaimana jika Pak Khaidir jatuh sakit dan tak kuat untuk pergi berjualan? Kemudian, bagaimana untuk memenuhi biaya berobat dan biaya hidup, ketika fisik tak kuat lagi berjualan. Dengan nada polos dan bola mata berkaca-kaca, Khaidir mengaku, dia bersama istrinya sering tak makan jika tak ada uang penghasilan.

“Kalau tak ada penghasilan, yah.. saya bersama istri sering tak makan,” ujar kakek renta itu dengan dana suara tertekan.

Khaidir juga menceritakan bahwa, gerobak dan modal usaha untuk berjualan roti bakar ini, dibantu seorang sahabat karibnya yang hiba melihat nasibnya.

“ Alhamdullilah, ada seorang sahabat yang mau memberikan bantuan gerobak dan modal usaha untuk berjualan roti bakar yang saya kelola ini. Dengan gerobak reot dan modal seadanya ini, saya bisa berjualan mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ungkap Khaidir apa adanya.

Ketika ditanya, pernahkah dia mendapatkan modal usaha dari pihak pemerintah Kota Payakumbuh, Khaidir mengaku belum pernah memperoleh bantuan modal usaha dari pihak pemerintah.

Hebatnya, meski luput dari perhatian pemerintah, Khaidir mengaku tidak pernah berputus asa untuk terus berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup ini. Karena itulah realitas hidup yang harus dilalui.

Meski demikian, tentu Khaidir adalah cermin dari nasib rakyat kecil yang pantas menjadi renungan. Walaupun dia tak pernah memelas meminta perhatian dari Pemerintah Kota Payakumbuh, namun sebagai  rakyat miskin, tentu, sudah sepatutnya dia diberi santunan dan modal usaha, sehingga mampu menjadi jaminan bagi hari tuanya.

Kita sadar dan tahu betul, kalau Khaidir bukanlah satu-satunya orang melarat dari sekian ribu rakyat miskin yang ada di Kota Payakumbuh yang membutuhkan perhatian. Namun demikian, tak ada salahnya, sosok Khaidir dapat dijadikan cermin, betapa pentingnya sebuah kepedulian.

Khaidir, teruslah berjuang dan berjuang demi orang-orang yang kamu cintai. Yakinlah, setiap langkah kakimu nan ringkih, pasti ada doa. Dan, yakinlah, Tuhan akan selalu ada dan menuntun setiap langkah kecilmu yang tak pernah lelah. Selamat berjuang kakek Khaidir. Yakin seyakin-yakinnyalah bahwa, rezeki akan selalu ada, karena Tuhan tidak pernah tidur….. Semoga !  (doddy sastra)

 

 

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.