Terbukti, WNA Asal China Ekploitasi Kekayaan Emas di Hutan Mangani

oleh -7.344 views

LIMAPULUH KOTA, dekadepos,com

Sejak zaman penjajahan Belanda, kekayaan bumi Mangani, Jorong Puadata, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, yang konon mengandung berjuta-juta ton emas memang menggiurkan banyak orang untuk melakukan ekploitasi, tentunya tidak terkecuali 10 orang warga asing asal China yang kini heboh diberitakan media massa.

Buktinya, selama dua pekan berada di hutan Mangani yang dilindungi itu, diam-diam tanpa memiliki izin resmi dari pemerintah, utamanya Pemkab Limauluh Kota, kesepuluh orang WNA asal China itu  telah berhasil mendirikan usaha pertambangan emas dengan menggunakan peralatan teknologi modren.

Hasil pantauan tim Imigrasi ke lokasi tambang, Kamis (26/11) menemukan sebuah bedeng dibangun dekat anak sungai berkukuran sekitar 4X 6 meter terbuat dari kayu beratap plastik, dimanfaatkan sebagai tempat tinggal, sekaligus tempat didirikannya peralatan tambang seperti mesin melebur bebatuan, alur bijian tambang, genset, kulkas dan peralatan tambang lainnya berikut ruangan yang ditempeli kestas skedul, helm tambang, 1 unit sepeda motor grondol, tikar lastik dan pakaian serta alat dapur, menjadi saksi bisu adanya praktek ilegal tambang dilakukan orang asing ditempat tersebut.

Meski tim imigrasi tidak lagi menemukan adanya kesepuluh WNA asal China tersebut di lokasi tambang, namun keterangan dari sejumlah penambang yang ada di lokasi tambang yang mereka sebut lokasi tambang Lobang 13 menyatakan bahwa, benar ada 10 orang asing asal China yang tidak bisa berbahasa Indonesia sudah melakukan aktifitas tambang di hutan Mangani.

Dari pengakuan warga tersebut diakui bahwa, selama 14 hari berada di areal tambang, kesepuluh warga China tersebut selain berhasil mendirikan bedeng dan peralatan tambang, bahkan juga sudah berhasil melakukan aktifitas tambang dimana mulut goa tambang hanya berjarak sekitar 10 meter dari bedeng peralatan tambang yang mereka dirikan.

“Lobang tambang seukuran sekitar 2×1,5 meter itu, digali memakai alat mesin hammer atau bor besar mempergunakan tenaga listrik. Diperkirakan ke dalam lobang tambang yang telah berhasil digali sekitar 15 meter menembus bukit yang diduga menyimpan material emas,” sebut seorang penambang yang tidak mau namanya disebut.

Tim Imigrasi yang melakukan pemantuan ke lokasi tambang yang jarak sekitar 15 kilomter dari Jorong Puadata, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunung Omeh, dengan berjalan kaki menempuh jalan setapak penuh lumpur dan sebagian mengunakan sepeda motor trabas dan sedikitnya melewati 14 buah jembatan darurat dibangun dari pohon kayu, tidak dapat  membayangkan betapa sulitnya  WNA asal China itu untuk membawa pelaratan tambang ke ke lokasi tersebut.

Namun, itulah kenyataannya. Meskipun medan menuju hutan Mangani cukup berat dan sulit, ternyata warga asing asal China itu berhasil mengangkut peralatan tambang dan mendirikan usaha pertambangan emas dengan peralatan cukup modren di lokasi tambang Lobang 13 tersebut.

Menurut keterangan warga, aktifitas tambang tanpa izin atau ilegal itu hanya berlangsung sekitar 2 pekan, namun keberadaan kesepuluh WNA asal China itu sudah menghebohkan masyarakat Sumatera Barat, dan tanah air umumnya karena telah berhasil melakukan ekploitasi emas di bumi Indonesia secara ilegal.

Pertanyaan besarnya, mengapa begitu mudah orang asing asal China itu masuk dan mengekplorasi kekayaan bumi Indonesia. Adakah pihak atau oknum tertentu yang berada dibalik keberadaan WNA China yang telah berhasil melakukan akfitas tambang di bumi Mangani? Entahlah!

Yang pasti, saat wartawan media ini ikut meliput tim imigrasi melakukan pemantauan ke lokasi tambang emas Mangani tersebut, merekam bahwa memang ada aktifitas tambang dilakukan orang asing asal China di lokasi tersebut.

Kepala Imigrasi kelas II Non TPI Agam, Dany Cahyadi didampingi Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian, Deny Haryadi dan Kepala Sub Seksi Intelijen Keimigrasian, Fajar Adiguna, Kasubsi Doklan, Rahman Antoni, Kasusi Statuskim, Azanul Fajri, Kasubsi TIK, Said Basri JFU Riki Hidayat dsn Nusya Fitri dan anggota Intel Polres Limapuluh Kota, Tim Penyiap Data Intelijen Kejaksaan Negeri Payakumbuh Indra Sudian, Disnaker dan staf Bidang Kewaspadaan Kesbangpol Limapuluh Kota, Fauzi, ketika diwawancarai awak media mengakui adanya aktifas tambang yang dilakukan WNA asal China di hutan Mangani.

“ Keberadaan WNA asal China itu sedang kita buru, karena menurut informasi dari masyarakat 5 hari lalu mereka sudah berhasil meninggalkan lokasi tambang,” ungkap Dany Cahyadi.

Menurut Dany Cahyadi, pihaknya belum bisa memastikan apakah WNA asal China, dimana  foto dan paspornya telah beredar secara luas setelah dimuat media massa adalah orang-orang yang menjadi  pelaku tambang ilegal di hutan Mangani tersebut. ” Saya  belum berani menyimpulkan. Pasalnya, sampai saat ini pihak imigrasi  masih menunggu data dan informasi dari Imigrasi pusat,” sebut Dany Cahyadi.

Yang pasti, ulas Dany Cahyadi, di lokasi kita memang menemukan adanya penambangan ilegal, karena ditemukan alat-lat tambang yang tidak biasa seperti dipergunakan oleh masyarakat penambang lokal. Alat-alat tambang yang ditemukan antara lain mesin pemecah batu, genset, 1unit pededa motor  dan kulkas serta peralatan lainnya,” sebut Dany Cahyadi.

Dijelaskan Dany Cahyadi, untuk saat ini pihaknya belum bisa mengetahui siapa WNA asal China yang telah melakukan kegiatan tanbang secara ilegal di lokasi tersebut, karena sampai saat ini pihaknya belum memiliki data-data apakah WNA asal China itu menggunakan visa kunjungan biasa atau pekerja.” Yang jelas keberadaannya akan terus kita telusuri,” pungkas Dany Cahyadi. (edw)