Walikota Riza Falepi Ngaku tak Kenal Bunda Putri, Kontrak APD Ditandatangani di Takona Kafe

oleh -2.460 views

PADANG, dekadepos.com-

Akhirnya, Walikota Payakumbuh Riza Falepi dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi proyek pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) tahun anggaran 2020 yang telah menjerat Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh dr. Bahkrizal sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Padang, Jum’at (13/5/2022).

Selain Walikota Riza Falepi, majelis hakim yang dipimpin Juandra,SH juga meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Payakumbuh untuk menghadirkan saksi bernama Kartini yang ikut berperan dalam perkara korupsi dana Covid-19 yang telah merugikan keuangan daerah sebesar Rp195 juta rupiah itu.

Menariknya, dalam sidang yang juga menghadirkan terdakwa dr. Bahkrizal didampingi penasehat hukumnya Zamri,SH, Nurhuda,SH, dan Dodi Marisa,SH, Walikota Payakumbuh Riza Falepi memberikan pengakuan bahwa dia tidak kenal dengan wanita bernama Bunda Putri yang namanya mengapung dalam sidang perkara korupsi dana Covid 19 yang telah menjerat Kadiskes Payakumbuh dr. Bahkrizal.

“ Saya tidak kenal dengan Bunda Putri itu Pak Hakim. Termasuk saksi bernama Kartini ini, saya juga tidak kenal. Yang saya tahu, saksi Kartini ini adalah warga saya di Kota Payakumbuh,” ujar Riza Falepi.

Ketika majelis hakim mempertanyakan kepada Riza Falepi soal cek Rp245 juta yang ditransfer ke Bunda Putri, dimana uang tersebut bersumber dari pinjaman kepada Perumda Air Minum Tirta Sago (PDAM) Payakumbuh, Walikota Riza Falepi juga mengaku tidak mengetahui hal itu.

“ Terkait soal pinjaman dan cek Rp245 juta itu, saya juga tidak mengetahuinya,” aku Walikota Riza Falepi.

Sementara itu Kartini dalam kesaksiannya memberikan keterangan mengejutkan dihadapan majelis hakim.

Menurutnya, dia adalah pihak yang diminta tolong oleh Kadiskes dr. Bahkrizal untuk mencarikan rekanan yang bisa ditunjuk sebagai pelaksana pengadaan APD di Dinas Kesehatan Payakumbuh termasuk di RSUD dr. Adnan WD Payakumbuh tahun 2020.

Kronologisnya, ungkap saksi Kartini, sekitar November 2020 dia ditelepon oleh Kadiskes Payakumbuh dr.Bahkrizal dan menawarkan pekerjaan pengadaan APD.

Diakui saksi Kartini, setelah ada tawaran pekerjaan pengadaan APD tersebut, saksi Kartini bertemu dengan Kadis Kesehatan dr. Bahkrizal di rumah dinasnya.

“Di rumah dinas Kadiskes itu selain ada Kadiskes yang biasa saya panggil dr. Back, juga ada wanita bernama Vella yang baru hari itu dikenalkan kepada saya,” ungkap Kartini.

Menurut Kartini, dalam pertemuan tersebut terdakwa dr. Back mengatakan mohon dibantu, karena ada barang atau APD dari teman Pak Walikota Riza Falepi bernama Bunda Putri sudah dikirim ke Payakumbuh. Namun barang APD tersebut tidak bisa dibayarkan karena tanpa ada rekanan penyedia barang.

“Untuk itu, Saya diminta dr. Beck untuk membantu mencarikan perusahaan yang biasa dipakai sebagai mitra kerja untuk pengadaan barang APD tersebut,” ungkap Kartini.

Dijelaskan saksi  Kartini, saat itu dia sempat bertanya kepada dr.  Back, siapa wanita bernama Bunda itu. Lalu dijawab oleh dr. Back, bahwa Bunda Putri itu adalah teman dekat Pak Walikota Riza Falepi yang punya relasi cukup bagus.

Beberapa hari setelah pembicaraan dengan dr. Back, saksi Kartini berhasil mengajak Direktur CV. Elang Mitra Abadi bernama Faisal meminjamkan perusahaannya untuk dipakai sebagai rekanan pelaksana pengadaan APD tersebut.

“Dengan catatan, Faisal dijanjikan akan diberikan pekerjaan atau pengadaan paket berikutnya oleh Kadiskes dr. Bahkrizal. Awalnya,  Faisal berkali-kali bertanya apakah pekerjaan pengadaan APD itu aman. Sesuai dengan pengakuan dr. Back, pekerjaan itu aman, karena barang APD tersebut adalah milik teman dekat Walikota Riza Falepi bernama Bunda Putri,” jelas saksi Kartini.

“ Selang beberapa waktu kemudian, pada hari Rabu bulan November yang tanggalnya Saya tidak ingat, saya ditelepon oleh Vella yang menyebutkan bahwa Ibu Loly sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kadiskes dr. Bahkrizal menunggu saya di kantor Balaikota Payakumbuh,” ujar saksi Kartini.

Di kantor Balaikota, beber saksi Kartini, dia bertemu dengan Kadiskes dr. Bahkrizal. Menurut pengakuan Kadiskes dr. Bahkhrizal, dia baru saja selesai rapat dan minta dana pengadaan APD dari Bunda Putri hari itu juga harus diselesaikan.

“ Pada hari itu juga Saya langsung dibawa dr. Backrizal ke BNI untuk mencairkan cek senilai Rp 245 juta. Uang sebanyak Rp 245 juta itu bersumber  dari pinjaman ke pihak PDAM Payakumbuh,” beber saksi Kartini.

Menurut saksi Kartini, pencaian cek sebesar Rp245 juta di BNI tersebut agak tersendat, karena pegawai BNI tidak mau mencairkan dana tersebut tanpa keterangan jelas.

“ Karena saat itu sudah mau magrib, akhirnya cek tersebut distor ke rekening sendiri atas nama Zulaiha. Saat itu dr. Bahkrizal dan Loly diminta petugas BNI  untuk menandatangani slip setoran, tapi mereka tidak mau. Akhirnya, saya saja yang menandatangi slip setoran tersebut dan selesai sudah uang sebanyak Rp 245 juta itu ditransfer ke Bunda Putri melalui rekening atas nama Zulaiha,” ulas Saksi Kartini.

Diakui saksi Kartini, usai menstransfer uang tersebut, Kadiskes dr. Bahkrizal langsung mengontak Bunda Putri menyatakan bahwa uang sebesar Rp245 juta itu sudah ditransfer ke rekening Zulaiha.

Saksi Kartini juga menjelaskan, beberapa hari kemudian dia menyerahkan company profil perusahaan ke Loli selanjutnya dia terima bersih masalah kontrak tersebut.

Pengadaan APD ini dipecah menjadi dua kontrak,kontrak APD pertama dilaksanakan di Dinas Kesehatan Payakumbuh dan kontrak kedua dialokasikan di di RSUD Adnan WD Payakumbuh.

“Tanggal kontrak dimundurkan sesuai hari kerja kegiatan yang tertera di kontrak. Sedangkan penandatanganan kontrak bukan di kantor Dinkes dan RSUD Adnan WD, tetapi diantar oleh Loly dan ditandatangani di Takona Cafe dekat Pasar Ibuah,” papar Kartini.

Setelah selesai administrasi kontrak kegiatan tersebut, dan Kartini mengaku ditelepon oleh Loli dan menyebutkan bahwa uang telah masuk ke rekening perusahaan dan sudah bisa dicairkan. Akhirnya, kami bertemu di Bank BPD dan sdr Faisal menyerahkan cek perusahaan dengan jumlah sesuai nominal kontrak kepada Loli untuk dicairkan.

“Kedua kontrak tersebut yakni pengadaan APD untuk Dinkes Payakumbuh dan pengadaan APD untuk RSUD Adnan WD Payakumbuh,” ujar saksi Kartini.

Kepada majelis hakim, saksi Kartini mengakui, pihaknya tidak pernah melihat barang tersebut dan tidak tahu apa-apa tentang APD tersebut.

“Karena pihak CV. Elang Mitra Abadi menyetujui perusahaannya dijadikan rekanan pelaksaaan APD tersebut, kemudian Kadiskes dr. Bahkrizal menjanjikan akan memberikan pekerjaan pada paket berikutnya. Namun kenyataannya, sampai hari ini janji tersebut tidak pernah ada. Janji hanya tinggal janji,” ungkap Kartini.

Selain meminta keterangan saksi Walikota Payakumbuh Riza Falepi dan Kartini, majelis hakim juga mendengarkan keterangan saksi dari Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) terkait pengadaan APD tersebut.

Sejumlah saksi PPHP menjelaskan kepada majelis hakim bahwa mereka tidak tahu tentang APD tersebut termasuk berapa banyak jumlahnya mereka juga tidak tahu termasuk pengiriman dari siapa serta speck barang yang ada hanya mereka ditugaskan mengambil barang dan mengecek satu persatu.

Majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut sempat menskor jalannya sidang beberapa kali dan sidang berakhir pukul 22.00 wib. (ds)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.